Saat diriku balita ku menyaksikan bagaimana sedikit demi sedikit bahan bangunan tersebut dirakit, sedikit demi sedikit bangunan itu terbentuk begitu besar dan megah, sebuah masjid yang diberi nama dari Asmaul Husna yaitu Al Wasi’i yang artinya Yang Maha Luas. Sesuai dengan masjid itu yang terasa sangat luas, di mana hari-hari masa kecilku dan remajaku sebagian akan dihabiskan di sana sebagai tempat bermain, belajar, dan beribadah.
sejak kecil ayahku mengajakku sholat berjama’ah di masjid, kadang-kadang harus melewati kumpulan anjing yang selalu menggonggong menakutiku sebagai anak yang masih kecil. Baik jalan kaki maupun menggunakan motor, tetap anjing-anjing tersebut mendekati sambil menggonggong. Melewati kebun yang ada pohon pete tinggi sekali sampai ada sarang elang di atasnya yang di malam hari mempunyai cerita sendiri bagi anak kecil.
di masjid tersebut aku belajar sholat, mengaji, matematika, fisika, dll. Di bimbing oleh kakak-kakak mahasiswa yang shalat di unila. menjadi tempat bermain berlarian di dalam masjid yang luas sekali dengan puas. takbiran di malam lebaran. sampai menjadi juara satu cerdas cermat islam di masjid tersebut.
di masjid ini saya melihat bagaimana para mahasiswa dan dosen yang konsisten sholat di dalamnya, memberikan kesan tersendiri. sahutan adzan oleh ayahku, oleh mahasiswa dan dosen yang menemani hari-hariku.
pernah satu hari kami bermain di terik matahari sampai kehausan, dan akhirnya setiba di masjid langsung kami minum air wudhu di sana, karena dah gak tahan lagi.
diajari matematika oleh kakak mahasiswa yang tinggal di masjid, menjadikanku cinta dengan matematika, sampai nilai matematika di NEM SD pun mendapatkan nilai sempurna yaitu 10, matematika di NEM SMP mendapatkan nilai 9,96, dan matematika di NEM SMA mendapatkan nilai 9,54.
begitu juga ketika aku mulai memasuki SMP favorit di Bandar Lampung, bersaing dengan teman-teman yang pintar, dan juga pelajaran baru yang ditemui yaitu fisika di dalam pelajara IPA. Sempat membuat saya drop, tidak percaya diri. Dengan bimbingan kakak mahasiswa dari FMIPA, saya diajarkan di perpustakaan masjid Al Wasi’i bagaimana fisika itu begitu menyenangkan, begitu mudahnya, sehingga menjadi pelajaran favorit saya, juga. Sehingga saya bisa belajar dengan mandiri, memotivasi saya dalam menyimak apa yang guru sekolah sampaikan. Sampai pernah ketika SMA suatu kali pada waktu ulangan umum, saya bisa mendapatkan nilai fisika dengan nilai sempurna yaitu 10.
Sholat ke masjid, bertemu dengan orang-orang yang sholeh sejak kecil, begitu membekas dihatiku, sehingga hatiku terpaut di masjid, sehingga di mana saja aku berada jika bertemu dengan masjid, seperti menemukan rumah sendiri. Begitu nyaman ibadah, duduk, diskusi, mengaji, merenung, tidur di dalamnya, i’tikaf ramadhan, menghabiskan waktu di masjid menunggu waktu sholat.
Masjid Al Wasi’i membentuk dasar pada diriku untuk mencintai masjid, dan menjadikan sholat dan mengaji itu sebagai kebutuhan.
Terimakasih ayahku yang rajin mengajakku sholat di masjid Al Wasi’i, bapak dosen, kakak mahasiswa, teman-teman lain yang telah menjadi jama’ah Al Wasi’i bersamaku
ketika aku SMA, di sekolahku pun mulai dibangun masjid, berdiri dengan kokoh ketika aku kelas tiga dan diberi nama Masjid Nurul Hidayah. Basic cinta kepada masjid sejak kecil di Al Wasi’i, ternyata membuatku dekat dengan masjid baru ini, juga diperkuat oleh aktifitas di rohis.
di masjid SMA ini banyak hal baru yang membuatku lebih kuat untuk mempelajari Islam lebih dalam. Jika di Al Wasi’i mau adzan gak pede, maka di masjid SMA jadi pede adzan sholat dhuhur. rame-rame dengan teman sholat dhuha di masjid, maklum dah kelas tiga, dah mau lulus, EBTANAS dan UMPTN.
peristiwa di Masjid SMA ini juga yang menggugahku untuk penuh semangat mempelajari Islam lebih dalam dengan banyak membaca. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, ketika itu lagi nyantai di masjid SMA, saya melihat-lihat perpustakaan, dan mata saya tertuju pada jejeran buku berwarnah hijau di rak perpustakaan Masjid tersebut, dan ternyata itu buku seri Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq. Saya ambil yang paling tebal jilid 2 tentang Sholat. Ketika itu ada teman yang melihat saya lagi megang buku Fiqih berkata bahwa kata pamannya kalau baca buku Fiqih kalau gak siap bisa Gila. Saya tetap saja membuka isi buku itu secara acak dan langsung pada bagian Sujud Sahwi. Saya baca dan saya terkesima dengan sujud sahwi ini, rupanya jika ada yang lupa tidak perlu mengulang sholat, cukup dengan sujud sahwi. Saya pun seperti tersadarkan betapa rendah ilmu saya tentang Islam. Selama ini saya hanya berfikiri berislam cukup dengan sholat lima waktu dan mengaji ba’da maghrib. Peristiwa bulan Ramadhan ini membuat saya bersemangat, tersadarkan, untuk menambah ilmu sebanyak-banyaknya keilmuan tentang Islam. Dan salah satunya dengan cara banyak membaca buku-buku Islam, yang selama ini saya lebih banyak baca buku Komik Jepang seperti Dragon Ball, Kungfu Boy, dan banyak lagi, akhirnya saya beralih banyak membaca buku-buku di perpustakaan Masjid Nurul Hidayah dan juga buku-buku Islam milik ayah saya.
Salah satu kesan ketika mambaca buku Fiqih Sunnah adalah saya menemukan Hadist di dalam buku tersebut tentang orang yang menjaga shalat lima waktu di masjid sejak takbir pertama selama 40 hari berturut-turut, maka diberikan jaminan baginya bebas dari sifat munafik dan bebas dari api neraka. Saya begitu termotivasi dengan hadist tersebut, dan saya kejar ketika kelas 3 SMA tersebut jika waktu adzan di manapun saya berada langsung ke Masjid. Dan ternyata 40 hari tersebut begitu memberikan kesan spiritual yang tinggi pada saya, terasa bagaimana Allah begitu mendapatkan prioritas nomor satu dari saya, dan juga makin cinta dengan Masjid
Dari membaca buku Fiqih Sunnah dan Hadist-hadist, serta buku-buku Islam lainnya membuat saya berusaha untuk sholat lima waktu di Masjid.
Pergi berjalan ke dan sholat di Masjid pun merupakan salah satu bentuk refreshing saya ketika belajar mempersiapkan UMPTN yang ketika itu saya bercita-cita hanya mau masuk ITB saja, pilihan pertama Teknik Elektro ITB, dan pilihan kedua Teknik Pertambangan ITB, dan jika saya gagal, maka saya siap untuk mengulang kembali UMPTN di tahun kedua, dan tidak akan kuliah di manapun kecuali di ITB. Tekad yang sudah terkumpul sejak membaca buku tentang Habibie Mutiara dari Timur yang dihadiahkan ayah saya.
Pernah juga ada beberapa orang dari Malaysia yang menginap di Masjid Al Wasi’i, yang memuji kami beberapa remaja yang sholat di Masjid, bahwa bagus masih mudah sudah mau sholat di Masjid dan ia pun cerita tentang pemuda 18 tahun Usamah bin Zaid a.s yang menjadi panglima pasukan muslimin di zaman Rasulullah saw.
Masjid-masjid di Lampung pun menjadi masjid yang dihampiri ketika sedang melakukan perjalanan ke luar rumah. Seperti Masjid Babussalam di dekat Korem Jalan Ratu, Masjid Taqwa jika adzan terdengar di Terminal, Masjid Robe Aziz jika sedang ke Gramedia, Masjid Al Furqon jika sedang Menuju Teluk Betung, Masjid samping Porles juga kadang disambangi jika sedang ke arah Artomoro. Masjid dekat Pasar Koga, Masjid Al Munawaroh di Jalur dua Way Halim, Masjid Islamic Center, dan masih banyak lagi.
Ketika saya selesai EBTANAS, saya bersama teman-teman memutuskan ke Bandung untuk intensif UMPTN dan membuktikan bisa bersaing dengan peserta UMPTN dari Bandung, alhamdulillah di salah satu bimble tray out kami bisa nembus 10 besar passing grade.
Di Bandung kami ngekos di Jalan Kenari, dan tempat kami bersandar untuk Sholat berjama’ah lima waktu adalah Masjid Balaikota yang ketika itu di mata kami sangat indah dan megah, dengan sound yang bening, dinding dari kaca, lantai kayu, atap tanpa tiang. Sholat subuh pun kami bela untuk memanjat pagar ketika gerbang kosan ditutup, akhirnya kami pun tiap subuh dibukakan gerbang agar bisa sholat ke Masjid Balaikota Bandung tersebut. Kadang ba’da maghrib sambil menunggu Isya kami baca buku Islam di sela-sela penatnya belajar soal UMPTN. Kami pun sampai akrab dengan pengurus masjid tersebut dan silaturahi ke sekretariatnya.
Setelah selesai intensif di Bandung, kami pulang lagi ke Lampung. Dan Masjid Al Wasi’i menjadi tempat untuk bersujud kepada Allah. Alhamdulillah UMPTN telah selesai dan pengumuman pun tiba. Saya berangkat ke Masjid, dan di Masjid sudah ada yang buka koran pengumuman UMPTN sambil nunggu qomat. Alhamdulillah ada nama saya di pengumuman masuk Teknik Elektro ITB. Para jama’ah Masjid Al Wasi’i pun menyalami saya dengan gembira. Dan Imam Subuh pada saat itu seorang Doktor pun ikut terharu dan mengucapkan selamat di depan Jama’ah sholat subuh. Subhanallah Alhamdulillah.
Kehidupan pun pindah ke Bandung, dan saya bersama beberapa teman dari Lampung pun ngekos di Sadang Serang selama setahun dan kemudian tiga orang dari kami melanjutkan ngontrak rumah masih di Sadang Serang selama dua tahun. Al hasil tiga tahun kami tinggal di Sadang Serang, dan Masjid MUI Kota Bandung pun menjadi tempat kami untuk sholat Subuh berjama’ah dan sholat wajib lainnya. Kadang kami dipersilahkan menjadi Imam.
Selain itu di kampung ITB, saya pun mengaktifkan diri di kegiatan Masjid Salman ITB. Di sini saya banyak belajar berorganisasi, saya yang sangat malu jika tampil di depan pun, belajar banyak di Masjid Salman dengan memimpin rapat, memberikan taushiyah, dan sebagaimnya di salah satu Unit Masjid Salman ITB yaitu Majelis Ta’lim. Tidur di Mihrab, I’tikaf, Bedah buku, Kuliah Dhuha, Tifan Po Khan, dan banyak kegiatan lain di Masjid Salman yang juga memberikan kesan tersendiri selama saya kuliah di ITB selama hampir lima tahun.
2 tahun terakhir di Bandung saya pindah ke Tubagus Ismail Dalam. Saya ngekos di kosan yang diberi nama Tuisda Inn, yang ada puluhan kamar, dan juga ada sebuah mushola di dalam lingkungan kos tersebut yang bernama Mushola As-Sakinah. Saya menggantikan kakak kelas saya di SMU yang juga kuliah di ITB yang sudah lulu, saya ngekos di kamarnya yang tepat bersebelahan dengan Musholla As-Sakinah. Akhirnya saya pun menjadi marbot musholla ini bersama teman yang kamarnya di atas kamar saya, dengan menjadi Imam dan Muadzin, membuat kegiatan pengajian ba’da subuh, pengajian Ramadhan, dan lainnya.
Banyak juga masjid-masjid di Bandung yang menjadi Masjid tempat transit agar sholat lima waktu di masjid. Seperti Masjid di Simpang Dago, Masjid Pusdai, Masjid Agung Bandung, Masjid Al Manar, Masjid Pesantren Miftahul Khoir, Masjid di Tubagus Ismail 8, Masjid-Masjid di Jalan Tubagus Ismail Dalam, Jalan Sekeloa, Masjid Unpad, Masjid Unisba, Masjid di Cisitu Dalam, dan begitu banyak Masjid.
Setelah kuliah saya pun Kerja dan tinggal di daerah Pancoran, maka Masjid-masjid di sekitar Pancoran pun menjadi tempat saya melakukan sholat lima waktu, masjid di komplek DPR RI, masjid Bangka Al Hikmah. Kadang saya dan teman kantor ketika sholat Dhuhur ke Masjid Kantor Pajak di Pancoran. Dan banyak Masjid lainnya.
Ketika Kerja saya pindah ke Pondok Indah, hampir 5 tahun lamanya saya sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, bahkan kadang Subuh di Masjid Raya Pondok Indah, bersama dengan teman-teman sekantor, membiasakan agar sholat berjama’ah di Masjid.
Di rumah saya daerah Parung Bingung, kami membangun dari pondasi sebuah Musholla atau Masjid yang diberi nama Masjid Nururrahman. Semangat membangun dimulai dari Ramadhan ketika pertama kali di perumahan tersebut, kami menggunakan tenda/tarup untuk sholat maghrib, isya, tarawih, ceramah dan subuh serta i’tikaf. Sehingga akhirnya Masjid pun berdiri secara bertahap selama beberapa tahun. Berbagai macam acara, pengajian pun dilaksanakan. masjid yang terbuka dengan welcome terhadap anak-anak walaupun berlairan dengan gembira. Ustadz Muhsinin Fauzi pun suatu waktu berceramah di Masjid Nururrahman dan mengatakan bahwa sholat itu ada khusyu’ bukan konsentrasi, jangan samakan khusyu’ dengan konsentrasi, kalau banyak anak-anak ribut berlarian dan sholat terganggu berarti itu konsentrasi. Paud pertama pun didirikan dan dilaksanakan di dalam Masjid, begitu juga dengan TPA. Bapak-bapak ada yang belajar mengaji dan juga belajar bahasa Arab dengan salah satu Imam Masjid lulusan pesantren yang lagi kuliah S1.
Halaman masjdi kami tanami rumput sehingga anak-anak bisa berlari dengan bebas, bermain dan disekitarnya kami tanami dengan tanman hijau, dengan cita-cita jika perumahan ini sudah penuh, maka kami masjid punya lahan hijau, lapangan Masjid dengan sekitarnya pohon hijau yang tinggi. Bahkan ada beberapa jama’ah yang punya cita-cita kalau pohonnya sudah tinggi, maka akan melakukan kemah bersama anak-anaknya di halaman masjid : )
Ketika Training di luar negeri seperti Backnang di Germany, Bangkok di Thailand, dan Kuala Lumpur di Malaysia, saya berusaha untuk sholat di Masjid. Yang menarik adalah ketika training di Backnang yang banyak orang Turki. Di dekat kantor dan juga hotel kami ada Masjid Turki. Dan yang training pun banyak muslim dari Pakistan, Aljazair, Maroko, Iran, dan Sudan. Tapi mereka semua heran kenapa saya rajin sekali sholat di Masjid dan juga menjaga makanan yang halal.
Sebelum berangkat ke Jerman, saya mencari tahu di internet, googling apakah ada Masjid di Backnang. Alhamdulillah ketika di Jerman, saya bertemu dengan saudara seakidah asal Indonesia, seorang Doktor yang bekerja di Stuttgart saat itu, yang menyambut saya dengan hangat, menjemput saya di dekat stasiun Stuttgart dengan mobilnya, kemudian membawa saya mampir ke rumahnya, memberikan beberapa makanan yang halal, berkenalan dengan anak-anaknya, mengajak makan di sebuah restoran halal di kota Stuttgart, keliling sebentar di sekitar istana Stuttgart, dan kemudian mengantar saya lagi ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Backnang
. Saya mendapatkan informasi tentang komuntas muslim Turki di Backnang dan adanya sebuah masjid di sana.
Ketika saya sampai Backnang, saya coba cari masjid tersebut dan ternyata ada di dekat hotel tempat saya tinggal dan juga kantor untuk training.
Masjid ini bertempat di sebuah gedung tempat tinggal 3 lantai, Masjidnya ada di lantai dua, dan di lantai lain dijadikan tempat tinggal Muslim Turki. Alhamdulillah saya melakukan shalat lima waktu di sini. Yang sholat sekitar 1 shaf. Ketika shalat Jumat, masjidnya penuh.
Sekarang saya lagi di Bandung melanjutkan studi S2 di Teknik Telekomunikasi ITB. Dan saya sekarang mayoritas sholat lima waktu di Masjid Manunggal di wilayah Sadang Serang
Dan diantara semua Masjid ada tiga Masjid yang sangat saya rindukan agar saya bisa sholat di sana, meletakkan dahi saya untuk sujud, ruku, yaitu Masjidil Haram di Makkah Al Mukarromah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al Aqso di Palestina. Demikian besar rinduku untuk bisa kesana ya Allah. Semoga Allah memudahkan dan melanjcarkan jalan menuju ke sana sebelum ajal tiba dan maut datang. Amin ya Rabbal ‘Alamin
Semoga yang membaca ini bisa ikut memakmurkan Masjid-masjid di seluruh dunia, terutama Masjid yang menjadi tetangga rumahnya, karena tidak diterima sholatnya kecuali di Masjid ketika mendengar panggilan Adzan. Akhir Zaman ini begitu sedikit orang yang memakmurkan masjid dengan sholat lima waktu di dalamnya. Dan begitu banyak orang yang bermegahan, berlomba-lomba membangun fisik masjid, tapi sedikit sekali yang sholat lima waktu di dalamnya.
Komentar Pembaca