Saat sedang duduk-duduk bersama Abdullah bin Amru bin ‘Ash, Mustaurid Al-Qurasyi berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw telah bersabda, “Menjelang terjadinya kiamat, bangsa Romawi adalah bangsa yang paling besar jumlah penduduknya.”

Mendengar hal itu, Abdullah bin Amru menukas, “Apa-apaan yang engkau katakan ini?

Mustaurid menjawab, “Aku hanya mengatakan apa yang benar-benar aku dengar langsung dari Rasulullah.”

Abdullah bin Amru menjawab, “Jika yang engkau  katakan itu benar, pastilah mereka adalah sebuah bangsa yang memiliki empat karakter. Mereka adalah orang yang paling santun saat terjadinya fitnah (kekacauan), mereka adalah orang yang paling cepat bangkit saat terkena musibah, mereka adalah orang yang paling cepat maju menyerang setelah mundur mengatur barisan, dan mereka adalah orang yang paling memperhatikan nasib orang miskin, anak yatim dan kaum lemah. Dan karakter kelima sungguh sebuah akhlak yang indah, yaitu mereka adalah orang yang paling anti terhadap kezhaliman penguasa.” [HR. Muslim: Kitab Al-Fitan Wa Asyrat Al-Sa'ah no. 2898]

Imam Muhammad bin Khalifah Al-Wasytani Al-Ubay dalam Ikmalu Ikmalil Mu’alim 9/347 menjelaskan bahwa hadits ini merupakan sebuah pujian bagi keempat atau kelima akhlak yang mulia nan terpuji tersebut, bukan sebagai pujian bagi orang-orang Romawi sendiri.

Disalin dari buku Misteri Negeri-Negeri Akhir Zaman karya Abu Fatiah Al-Adnani, Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah, penerbit Granada Mediatama, Cetakan kedua Agustus 2007,  hal 250-251

Saat diriku balita ku menyaksikan bagaimana sedikit demi sedikit bahan bangunan tersebut dirakit, sedikit demi sedikit bangunan itu terbentuk begitu besar dan megah, sebuah masjid yang diberi nama dari Asmaul Husna yaitu Al Wasi’i yang artinya Yang Maha Luas. Sesuai dengan masjid itu yang terasa sangat luas, di mana hari-hari masa kecilku dan remajaku sebagian akan dihabiskan di sana sebagai tempat bermain, belajar, dan beribadah.

sejak kecil ayahku mengajakku sholat berjama’ah di masjid, kadang-kadang harus melewati kumpulan anjing yang selalu menggonggong menakutiku sebagai anak yang masih kecil. Baik jalan kaki maupun menggunakan motor, tetap anjing-anjing tersebut mendekati sambil menggonggong. Melewati kebun yang ada pohon pete tinggi sekali sampai ada sarang elang di atasnya yang di malam hari mempunyai cerita sendiri bagi anak kecil.

di masjid tersebut aku belajar sholat, mengaji, matematika, fisika, dll. Di bimbing oleh kakak-kakak mahasiswa yang shalat di unila. menjadi tempat bermain berlarian di dalam masjid yang luas sekali dengan puas. takbiran di malam lebaran. sampai menjadi juara satu cerdas cermat islam di masjid tersebut.

di masjid ini saya melihat bagaimana para mahasiswa dan dosen yang konsisten sholat di dalamnya, memberikan kesan tersendiri. sahutan adzan oleh ayahku, oleh mahasiswa dan dosen yang menemani hari-hariku.

pernah satu hari kami bermain di terik matahari sampai kehausan, dan akhirnya setiba di masjid langsung kami minum air wudhu di sana, karena dah gak tahan lagi.

diajari matematika oleh kakak mahasiswa yang tinggal di masjid, menjadikanku cinta dengan matematika, sampai nilai matematika di NEM SD pun mendapatkan nilai sempurna yaitu 10, matematika di NEM SMP mendapatkan nilai 9,96, dan matematika di NEM SMA mendapatkan nilai 9,54.

begitu juga ketika aku mulai memasuki SMP favorit di Bandar Lampung, bersaing dengan teman-teman yang pintar, dan juga pelajaran baru yang ditemui yaitu fisika di dalam pelajara IPA. Sempat membuat saya drop, tidak percaya diri. Dengan bimbingan kakak mahasiswa dari FMIPA, saya diajarkan di perpustakaan masjid Al Wasi’i bagaimana fisika itu begitu menyenangkan, begitu mudahnya, sehingga menjadi pelajaran favorit saya, juga. Sehingga saya bisa belajar dengan mandiri, memotivasi saya dalam menyimak apa yang guru sekolah sampaikan. Sampai pernah ketika SMA suatu kali pada waktu ulangan umum, saya bisa mendapatkan nilai fisika dengan nilai sempurna yaitu 10.

Sholat ke masjid, bertemu dengan orang-orang yang sholeh sejak kecil, begitu membekas dihatiku, sehingga hatiku terpaut di masjid, sehingga di mana saja aku berada jika bertemu dengan masjid, seperti menemukan rumah sendiri. Begitu nyaman ibadah, duduk, diskusi, mengaji, merenung, tidur di dalamnya, i’tikaf ramadhan, menghabiskan waktu di masjid menunggu waktu sholat.

Masjid Al Wasi’i membentuk dasar pada diriku untuk mencintai masjid, dan menjadikan sholat dan mengaji itu sebagai kebutuhan.

Terimakasih ayahku yang rajin mengajakku sholat di masjid Al Wasi’i, bapak dosen, kakak mahasiswa, teman-teman lain yang telah menjadi jama’ah Al Wasi’i bersamaku

ketika aku SMA, di sekolahku pun mulai dibangun masjid, berdiri dengan kokoh ketika aku kelas tiga dan diberi nama Masjid Nurul Hidayah. Basic cinta kepada masjid sejak kecil di Al Wasi’i, ternyata membuatku dekat dengan masjid baru ini, juga diperkuat oleh aktifitas di rohis.

di masjid SMA ini banyak hal baru yang membuatku lebih kuat untuk mempelajari Islam lebih dalam. Jika di Al Wasi’i mau adzan gak pede, maka di masjid SMA  jadi pede adzan sholat dhuhur. rame-rame dengan teman sholat dhuha di masjid, maklum dah kelas tiga, dah mau lulus, EBTANAS dan UMPTN.

peristiwa di Masjid SMA ini juga yang menggugahku untuk penuh semangat mempelajari Islam lebih dalam dengan banyak membaca. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, ketika itu lagi nyantai di masjid SMA, saya melihat-lihat perpustakaan, dan mata saya tertuju pada jejeran buku berwarnah hijau di rak perpustakaan Masjid tersebut, dan ternyata itu buku seri Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq. Saya ambil yang paling tebal jilid 2 tentang Sholat. Ketika itu ada teman yang melihat saya lagi megang buku Fiqih berkata bahwa kata pamannya kalau baca buku Fiqih kalau gak siap bisa Gila. Saya tetap saja membuka isi buku itu secara acak dan langsung pada bagian Sujud Sahwi. Saya baca dan saya terkesima dengan sujud sahwi ini, rupanya jika ada yang lupa tidak perlu mengulang sholat, cukup dengan sujud sahwi. Saya pun seperti tersadarkan betapa rendah ilmu saya tentang Islam. Selama ini saya hanya berfikiri berislam cukup dengan sholat lima waktu dan mengaji ba’da maghrib. Peristiwa bulan Ramadhan ini membuat saya bersemangat, tersadarkan, untuk menambah ilmu sebanyak-banyaknya keilmuan tentang Islam. Dan salah satunya dengan cara banyak membaca buku-buku Islam, yang selama ini saya lebih banyak baca buku Komik Jepang seperti Dragon Ball, Kungfu Boy, dan banyak lagi, akhirnya saya beralih banyak membaca buku-buku di perpustakaan Masjid Nurul Hidayah dan juga buku-buku Islam milik ayah saya.

Salah satu kesan ketika mambaca buku Fiqih Sunnah adalah saya menemukan Hadist di dalam buku tersebut tentang orang yang menjaga shalat lima waktu di masjid sejak takbir pertama selama 40 hari berturut-turut, maka diberikan jaminan baginya bebas dari sifat munafik dan bebas dari api neraka. Saya begitu termotivasi dengan hadist tersebut, dan saya kejar ketika kelas 3 SMA tersebut jika waktu adzan di manapun saya berada langsung ke Masjid. Dan ternyata 40 hari tersebut begitu memberikan kesan spiritual yang tinggi pada saya, terasa bagaimana Allah begitu mendapatkan prioritas nomor satu dari saya, dan juga makin cinta dengan Masjid :)

Dari membaca buku Fiqih Sunnah dan Hadist-hadist, serta buku-buku Islam lainnya membuat saya berusaha untuk sholat lima waktu di Masjid.

Pergi berjalan ke dan sholat di Masjid pun merupakan salah satu bentuk refreshing saya ketika belajar mempersiapkan UMPTN yang ketika itu saya bercita-cita hanya mau masuk ITB saja, pilihan pertama Teknik Elektro ITB, dan pilihan kedua Teknik Pertambangan ITB, dan jika saya gagal, maka saya siap untuk mengulang kembali UMPTN di tahun kedua, dan tidak akan kuliah di manapun kecuali di ITB. Tekad yang sudah terkumpul sejak membaca buku tentang Habibie Mutiara dari Timur yang dihadiahkan ayah saya.

Pernah juga ada beberapa orang dari Malaysia yang menginap di Masjid Al Wasi’i, yang memuji kami beberapa remaja yang sholat di Masjid, bahwa bagus masih mudah sudah mau sholat di Masjid dan ia pun cerita tentang pemuda 18 tahun Usamah bin Zaid a.s yang menjadi panglima pasukan muslimin di zaman Rasulullah saw.

Masjid-masjid di Lampung pun menjadi masjid yang dihampiri ketika sedang melakukan perjalanan ke luar rumah. Seperti Masjid Babussalam di dekat Korem Jalan Ratu, Masjid Taqwa jika adzan terdengar di Terminal, Masjid Robe Aziz jika sedang ke Gramedia, Masjid Al Furqon jika sedang Menuju Teluk Betung, Masjid samping Porles juga kadang disambangi jika sedang ke arah Artomoro. Masjid dekat Pasar Koga, Masjid Al Munawaroh di Jalur dua Way Halim, Masjid Islamic Center, dan masih banyak lagi.

Ketika saya selesai EBTANAS, saya bersama teman-teman memutuskan ke Bandung untuk intensif UMPTN dan membuktikan bisa bersaing dengan peserta UMPTN dari Bandung, alhamdulillah di salah satu bimble tray out kami bisa nembus 10 besar passing grade.

Di Bandung kami ngekos di Jalan Kenari, dan tempat kami bersandar untuk Sholat berjama’ah lima waktu adalah Masjid Balaikota yang ketika itu di mata kami sangat indah dan megah, dengan sound yang bening, dinding dari kaca, lantai kayu, atap tanpa tiang. Sholat subuh pun kami bela untuk memanjat pagar ketika gerbang kosan ditutup, akhirnya kami pun tiap subuh dibukakan gerbang agar bisa sholat ke Masjid Balaikota Bandung tersebut. Kadang ba’da maghrib sambil menunggu Isya kami baca buku Islam di sela-sela penatnya belajar soal UMPTN. Kami pun sampai akrab dengan pengurus masjid tersebut dan silaturahi ke sekretariatnya.

Setelah selesai intensif di Bandung, kami pulang lagi ke Lampung. Dan Masjid Al Wasi’i menjadi tempat untuk bersujud kepada Allah. Alhamdulillah UMPTN telah selesai dan pengumuman pun tiba. Saya berangkat ke Masjid, dan di Masjid sudah ada yang buka koran pengumuman UMPTN sambil nunggu qomat. Alhamdulillah ada nama saya di pengumuman masuk Teknik Elektro ITB. Para jama’ah Masjid Al Wasi’i pun menyalami saya dengan gembira. Dan Imam Subuh pada saat itu seorang Doktor pun ikut terharu dan mengucapkan selamat di depan Jama’ah sholat subuh. Subhanallah Alhamdulillah.

Kehidupan pun pindah ke Bandung, dan saya bersama beberapa teman dari Lampung pun ngekos di Sadang Serang selama setahun dan kemudian tiga orang dari kami melanjutkan ngontrak rumah masih di Sadang Serang selama dua tahun. Al hasil tiga tahun kami tinggal di Sadang Serang, dan Masjid MUI Kota Bandung pun menjadi tempat kami untuk sholat Subuh berjama’ah dan sholat wajib lainnya. Kadang kami dipersilahkan menjadi Imam.

Selain itu di kampung ITB, saya pun mengaktifkan diri di kegiatan Masjid Salman ITB. Di sini saya banyak belajar berorganisasi, saya yang sangat malu jika tampil di depan pun, belajar banyak di Masjid Salman dengan memimpin rapat, memberikan taushiyah, dan sebagaimnya di salah satu Unit Masjid Salman ITB yaitu Majelis Ta’lim.  Tidur di Mihrab, I’tikaf, Bedah buku, Kuliah Dhuha, Tifan Po Khan, dan banyak kegiatan lain di Masjid Salman yang juga memberikan kesan tersendiri selama saya kuliah di ITB selama hampir lima tahun.

2 tahun terakhir di Bandung saya pindah ke Tubagus Ismail Dalam. Saya ngekos di kosan yang diberi nama Tuisda Inn, yang ada puluhan kamar, dan juga ada sebuah mushola di dalam lingkungan kos tersebut yang bernama Mushola As-Sakinah. Saya menggantikan kakak kelas saya di SMU yang juga kuliah di ITB yang sudah lulu, saya ngekos di kamarnya yang tepat bersebelahan dengan Musholla As-Sakinah. Akhirnya saya pun menjadi marbot musholla ini bersama teman yang kamarnya di atas kamar saya, dengan menjadi Imam dan Muadzin, membuat kegiatan pengajian ba’da subuh, pengajian Ramadhan, dan lainnya.

Banyak juga masjid-masjid di Bandung yang menjadi Masjid tempat transit agar sholat lima waktu di masjid. Seperti Masjid di Simpang Dago, Masjid Pusdai, Masjid Agung Bandung, Masjid Al Manar, Masjid Pesantren Miftahul Khoir, Masjid di Tubagus Ismail 8, Masjid-Masjid di Jalan Tubagus Ismail Dalam, Jalan Sekeloa, Masjid Unpad, Masjid Unisba, Masjid di Cisitu Dalam, dan begitu banyak Masjid.

Setelah kuliah saya pun Kerja dan tinggal di daerah Pancoran, maka Masjid-masjid di sekitar Pancoran pun menjadi tempat saya melakukan sholat lima waktu, masjid di komplek DPR RI, masjid Bangka Al Hikmah. Kadang saya dan teman kantor ketika sholat Dhuhur ke Masjid Kantor Pajak di Pancoran. Dan banyak Masjid lainnya.

Ketika Kerja saya pindah ke Pondok Indah, hampir 5 tahun lamanya saya sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, bahkan kadang Subuh di Masjid Raya Pondok Indah, bersama dengan teman-teman sekantor, membiasakan agar sholat berjama’ah di Masjid.

Di rumah saya daerah Parung Bingung, kami membangun dari pondasi sebuah Musholla atau Masjid yang diberi nama Masjid Nururrahman. Semangat membangun dimulai dari Ramadhan ketika pertama kali di perumahan tersebut, kami menggunakan tenda/tarup untuk sholat maghrib, isya, tarawih, ceramah dan subuh serta i’tikaf. Sehingga akhirnya Masjid pun berdiri secara bertahap selama beberapa tahun. Berbagai macam acara, pengajian pun dilaksanakan. masjid yang terbuka dengan welcome terhadap anak-anak walaupun berlairan dengan gembira. Ustadz Muhsinin Fauzi pun suatu waktu berceramah di Masjid Nururrahman dan mengatakan bahwa sholat itu ada khusyu’ bukan konsentrasi, jangan samakan khusyu’ dengan konsentrasi, kalau banyak anak-anak ribut berlarian dan sholat terganggu berarti itu konsentrasi. Paud pertama pun didirikan dan dilaksanakan di dalam Masjid, begitu juga dengan TPA. Bapak-bapak ada yang belajar mengaji dan juga belajar bahasa Arab dengan salah satu Imam Masjid lulusan pesantren yang lagi kuliah S1.

Halaman masjdi kami tanami rumput sehingga anak-anak bisa berlari dengan bebas, bermain dan disekitarnya kami tanami dengan tanman hijau, dengan cita-cita jika perumahan ini sudah penuh, maka kami masjid punya lahan hijau, lapangan Masjid dengan sekitarnya pohon hijau yang tinggi. Bahkan ada beberapa jama’ah yang punya cita-cita kalau pohonnya sudah tinggi, maka akan melakukan kemah bersama anak-anaknya di halaman masjid : )

Ketika Training di luar negeri seperti Backnang di Germany, Bangkok di Thailand, dan Kuala Lumpur di Malaysia, saya berusaha untuk sholat di Masjid. Yang menarik adalah ketika training di Backnang yang banyak orang Turki. Di dekat kantor dan juga hotel kami ada Masjid Turki. Dan yang training pun banyak muslim dari Pakistan, Aljazair, Maroko, Iran, dan Sudan. Tapi mereka semua heran kenapa saya rajin sekali sholat di Masjid dan juga menjaga makanan yang halal.

Sebelum berangkat ke Jerman, saya mencari tahu di internet, googling apakah ada Masjid di Backnang. Alhamdulillah ketika di Jerman, saya bertemu dengan saudara seakidah asal Indonesia, seorang Doktor yang bekerja di Stuttgart saat itu, yang menyambut saya dengan hangat, menjemput saya di dekat stasiun Stuttgart dengan mobilnya, kemudian membawa saya mampir ke rumahnya, memberikan beberapa makanan yang halal, berkenalan dengan anak-anaknya, mengajak makan di sebuah restoran halal di kota Stuttgart, keliling sebentar di sekitar istana Stuttgart, dan kemudian mengantar saya lagi ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Backnang :) .  Saya mendapatkan informasi tentang komuntas muslim Turki di Backnang dan adanya sebuah masjid di sana.

Ketika saya sampai Backnang, saya coba cari masjid tersebut dan ternyata ada di dekat hotel tempat saya tinggal dan juga kantor untuk training.

Masjid ini bertempat di sebuah gedung tempat tinggal 3 lantai, Masjidnya ada di lantai dua, dan di lantai lain dijadikan tempat tinggal Muslim Turki. Alhamdulillah saya melakukan shalat lima waktu di sini. Yang sholat sekitar 1 shaf. Ketika shalat Jumat, masjidnya penuh.

Sekarang saya lagi di Bandung melanjutkan studi S2 di Teknik Telekomunikasi ITB. Dan saya sekarang mayoritas sholat lima waktu di Masjid Manunggal di wilayah Sadang Serang :)

Dan diantara semua Masjid ada tiga Masjid yang sangat saya rindukan agar saya bisa sholat di sana, meletakkan dahi saya untuk sujud, ruku, yaitu Masjidil Haram di Makkah Al Mukarromah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al Aqso di Palestina. Demikian besar rinduku untuk bisa kesana ya Allah. Semoga Allah memudahkan dan melanjcarkan jalan menuju ke sana sebelum ajal tiba dan maut datang. Amin ya Rabbal ‘Alamin

Semoga yang membaca ini bisa ikut memakmurkan Masjid-masjid di seluruh dunia, terutama Masjid yang menjadi tetangga rumahnya, karena tidak diterima sholatnya kecuali di Masjid ketika mendengar panggilan Adzan. Akhir Zaman ini begitu sedikit orang yang memakmurkan masjid dengan sholat lima waktu di dalamnya. Dan begitu banyak orang yang bermegahan, berlomba-lomba membangun fisik masjid, tapi sedikit sekali yang sholat lima waktu di dalamnya.

Mengenai anak-anak, walaupun mereka tidak wajib berpuasa, tetapi sepatutnya walinya menyuruh mereka untuk mengerjakannya agar mereka terbiasa, selama anak itu mampu.

Rubaiyi’ binti Muawwidz meriwayatkan bahwa Rasulullah saw., pada pagi hari Asyura’ mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan, “Barang siapa yang telah berpuasa dari pagi hari, hendaknya ia meneruskan puasanya, dan siapa yang sejak pagi telah berbuka, hendaknya ia memuasakan hari yang tinggal.’ Setelah itu, kami pun berpuasa dan kami suruh anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid. Kami buatkan mereka alat permainan dair bulu domba. Jika ada di antara mereka menangis minta makan, kami berikan alat permainan itu. Begitu langsung hingga mendekati waktu berbuka.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Saya salin dari buku terjemahan yang diberi judul Fiqih Bayi karya Ibnul Qoyyim. Judul aslinya adalah Tuhfatul-Maudud bi Ahkamil-Maulud



Para Ulama memperselisihkan tentang makruh tidaknya khitan pada hari ketujuh sejak kelahiran bayi, yaitu dua pendapat, yang kedua-duanya sama-sama riwayat dari Imam Ahmad.

Imam Khallal berkata dalam bab Menerangkan Khitan Bayi, ‘Abdul-Malik bin ‘Abdul-Hamid telah mengabarkan kepadaku, dia pernah berdiskusi dengan Abu ‘Abdillah tentang khitan bayi, “Pada umur berapakah sepatutnya dia dikhitan?” Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak mendengar apa-apa tentang itu.”

Aku katakan, kata ‘Abdul-Malik melanjutkan riwayatnya, “Sesungguhnya Khitan itu terasa berat pada anak usia 10 tahun. Itu akan terasa sulit baginya.” Saya ceritakan kepadanya tentang anakku, Muhammad, dia berusia 5 tahun. Saya ingin mengkhitannya dan saya lihat agaknya dia mau. Saya lihat dia tidak dikhitan pada usia 10 tahun karena akan terasa keras dan susah.”

Mendengar itu, Abu ‘Abdillah berkata kepadaku, “Saya kira anak kecil tidak akan susah dikhitan.”

“Selain dari itu, “ lanjut ‘Abdul-Malik, “saya pun tidak melihat Abu ‘Abdillah menganggap khita itu makruh untuk anak kecil usia sebulan atau setahun. Dia tidak berkata apa-apa kepadaku mengenai itu. Saya hanya melihat dia merasa heran jika dikatakan khitan menyakiti anak kecil.”

Adapun riwayat Imam Ahmad dengan riwayat tadi, kata ‘Abdul-Malik, “Saya mendengar Abu ‘Abdillah mengatakan Hasan tidak menyukai anak kecil dikhitan pada hari ketujuh (dari kelahiran) –nya.”

Dia katakan pula, Muhammad bin ‘Ali as-Simsar mengabarkan kepada kami, dia berkata, Muhanna telah menceritakan kepada kami, dia berkata bahwa dirinya pernah bertanya kepda Abu ‘Abdillah tentang seorang laiki-laki yang mengkhitan anaknya pada hari ketujuh (sejak kelahiran) –nya. Ternyata Abu ‘Abdillah tidak menyukai itu dan berkata, “Itu adalah perbuatan kaum Yahudi.”

Kata Imam Ahmad bin Hanbal pula kepadaku, “Imam Hasan pun tidak menyukai orang yang mengkhitan anaknya pada hari ketujuh (sejak kelahiran)-nya.”
Saya bertanya, “Siapa yang menyebutkan hal itu dari Imam Hasan?”
Dia jawab, “Beberapa orang Basrah.”

Kata Imam Ahmad pula kepadaku, telah sampai berita kepadaku bahwa Sufyan Tsauri bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah, “Umur berapakah sepatutnya anak dikhitan?”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Andaikan aku dapat mengatakan kepada anak itu, Ibnu ‘Umar mengkhitan anak-anaknya saat usia berapa?”

Kata Imam Abdul-Malik, Imam Ahmad berkata kepadaku (menanggapi dialog itu), “Tidak ada orang yang lebih pandai daripada Sufyan bin ‘Uyainah,” Maksudnya ketika dia berkata, “Ibnu ‘Umar mengkhitan anak-anaknya saat berusia berapa?”

Kata Abdul-Malik pula, ‘Ishmah bin ‘Isham telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, Imam Hanbal telah menceritakan kepada kami bahwa Abu ‘Abdillah berkata, “Jika anak dikhitan pada hari ketujuh, itu tidak apa-apa. Adapun jika Imam Hasan tidak menyukainya, itu tak lain supaya tidak sama dengan kaum Yahudi. Padahal, tidak ada alasan apa pun dalam hal itu. “

Dia katakan pula: Muhammad bin Ali telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, “Shalih telah menceritakan kepadaku, bahwa dia pernah bertanya kepada ayahnya, “Bolehkan bayi dikhitan pada hari ketujuh?” Maka, ia menjawab, “Diriwayatkan dari Hasan, bahwa dia berkata, itu perbuatan kaum Yahudi.”

Dia katakan pula, hal itu pernah pula ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih. Dia menjawab, “Hal itu dianjurkan pada hari ketujuh tidak lain karena akan ringan dirasakan si anak. Bayi itu dilahirkan dalam keadaan sekujur tubuhnya kedap rasa. Dia belum merasakan sakit, apa pun yang menimpanya, selama tujuh hari. Jika dia tidak dikhitan pada saat itu, biarkan dia sampai menjadi kuat.”

Adapun kata Ibnul-Mundzir dalam keterangannya tentang waktu khitan, “Para ulama berselisih tentang waktu khitan. Sekelompok Ulama tidak sudak anak dikhitan pada hari ketujuh. Mereka yang tidak suka itu adalah Imam Hasan Bashri dan Imam Malik bin ‘Anas hanya agar berbeda dengan kaum Yahudi. Adapun Sufyan Tasuri mengatakan hal itu berbahaya. Imam Malik mengatakan, “Paling benar adalah agar berbeda dengan kaum Yahudi.”

“Namun kebanyakan, “lanjut Ibnul-Mundzir, “Kami dapati khitan di negeri kami dilakukan saat anak telah tumbuh giginya.”

Dalam hal itu, Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya tidak pernah mendengar apa pun tentang itu.”

Beda lagi menurut Laits bin Sa’ad, khitan bagi anak laki-laki adalah pada umur antara tujuh hingga sepuluh tahun. Dalam hal itu, dia katakan, “Diceritakan dari Makhul atau lainnya bahwa Ibrahim Kahil ar-Rahman menghitan puteranya, Ishaq, pada hari ketujuh dan mengkhitan putera satunya lagi, Ismail, pada usia 13 tahun.”

Sementara itu, riwayat dari Abu Ja’far, Fathimah mengkhitan puteranya pada hari ketujuh. [lihat At-Tamhid karya Imam Ibnu Abdil-Bar 21/60].

Balik lagi kepada Ibnul-Mundzir, dia berkata, “Dalam bab ini, sebenarnya tidak ada larangan yang tsabit (otentik) dan tentang waktu pelaksanaan khitan pun tidak ada khabar yang dapat dijadikan rujukan atau sunnah yang diamalkan. Oleh karena itu, semua sebenarnya mubah dan tidak boleh melarang manapun kecuali ada hujjah. Kami sendiri tidak tahu hujjah orang yang melarang anak kecil dikhitan pada hari ketujuh.”

Dalam sunan Imam Baihaqi, ada hadist dari Zuhair bin Muhammad, dari Muhammad al-Munkadir, dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah Salalllahu ‘alaihi wasallam meng-‘aqiqah-i Hasan dan Husain serta mengkhitan mereka pada hari ketujuh.” [Al-Iyal karya Imam Abid-Dunya 2/783528, Sunan Imam Baihaqi 8/324, hadits dha’if al-isnad].

Di sana ada pula hadist dari Musa bin ‘Ali bin Rabah, dari ayahnya bahwa Ibrahim mengkhitan Ishaq saat ia usia tujuh hari. [Sunan Iamam Baihaqi 8/324]

Begitu pula kata guru kami (Ibnu Taiyyimah), “Ibrahim mengkhitan Ishaq pada hari ketujuh dan mengkhitan Ismail ketika telah baligh. Khitan Ishaq itu kemudian menjadi tradisi bagi anak cucunya dan khitan Isamil pun menjadi tradisi anak cucunya.” Wallahua’lam.

Di bawah ini adalah gambar rangkaian penghitung sindrom untuk siklis Hamming (15,11) dengan polinom generator  g(x)=1+X+X^4 .

Dari Rangkaian sindrom di bawah ini, kita lihat error pattern dengan masukan 1 di pertama kali dan dishift sebanyak 15 kali sehingga kita bisa lihat error pattern pada saat shif terakhir di register sindrom yaitu 1 0 0 1.

Rangkaian Penghitung Sindrom

Rangkaian Penghitung Sindrom

Berikut tabel hasil menghitung sindrom

Tabel Menghitung Sindrom

Nilai terakhir pada sindrom terakhir ini yaitu 1 0 0 1 diimplementasikan dengan rangkaian logika AND untuk mengkoreksi kode di terima agar menjadi benar.

Rangkaian Logika

Rangkaian Logika

Rangkaian pengkoreksi kesalahan untuk kode siklis Hamming (15,11) dengan polinom generator g(x)=1+X+X^4. Maka Rangkaian Pengkoreksi Kesalahan secara lengkap adalah sebagai berikut:

Rangakaian Pengkoreksi Kesalahan

Berikut ini adakan ditunjukkan cara kerja rangkaian dengan contoh vektor kode sebagai contoh adalah

v(X)=1+X^3+X^6+X^9+X^{12}
V= [1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0]

kemudian ada error pada pada sisi penerima pada X^{10}

v(X)=1+X^3+X^6+X^9+X^{10}+X^{12}
r= [1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0]

Tahap pertama adalah switch ketiga terbuka, dan sistem mengisi buffer sampai penuh dan juga mengubah nilai pada register sindrom. Maka ketika buffer sudah penuh dengan bit ke-15, maka sindrom yang tersisa pada sindrom register adalah 1110

Posisi Sindrom Register Ketika Buffering

Selanjutnya Switch 1 terputus. Register Sindrom terus bergeser dan keluarnya setelah melewati rangkain AND akan mengkoreksi keluaran dari buffer yang siklis.

Maka step berikutnya adalah

Pengkoreksian Kesalahan

Dengan ini pada putaran ke-5 menuju ke-6 error pada posisi X^10 telah dikoreksi. Dan seterusnya shift buffer akan terus berputar sampai akhir di putaran ke-15, baru lah keluaran dari Buffer menjadi data yang diterima yang sudah dikoreksi errornya.

Bibliografi

[1] S. Lin, D. J. Costello, Error Control Coding: Fundamentals and Applications, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey: 1983.
[2] Sugihartono, Handout kuliah Topik Khusus Sistem Komunikasi Radio: Akuisisi dan Tracking

Kode Reed-Solomon diperkenalkan oleh Irving Reed dan Gus Solomon pada tahun 1960 [1].

Cara Coding untuk Kode Reed-Solomon ada dua cara:

1. Dengan menggunakan polynom generator g(X) pada domain waktu
2. Dengan menggunakan DFT pada domain frekuensi

Satu kode Reed-Solomon (7,3) pada GF(8) yang memiliki kemampuan koreksi 2 posisi error disusun menggunakan polinom generator:

RS(N,K), N=7, K=3
2t=N-K=7-3=4

g(X)=(X-\alpha)(X-\alpha^2)(X-\alpha^3)(X-\alpha^4)
=(X^2-(\alpha+\alpha^2)X+\alpha^3)(X^2-(\alpha^3+\alpha^4)X+\alpha^7)
=(X^2-\alpha^4X+\alpha^3)(X^2-(\alpha+1+\alpha^2+\alpha)X+\alpha^7)
=(X^2-\alpha^4X+\alpha^3)(X^2-\alpha^6X+\alpha^0)
=X^4-(\alpha^4+\alpha^6)X^3+(\alpha^0+\alpha^3+\alpha^9)X^2-(\alpha^4+\alpha^9)X+\alpha^3\cdot\alpha^0
=\alpha^0X^4-(\alpha^2+\alpha+\alpha^2+1)X^3+(1+\alpha+1+\alpha^{10-7})X^2
-(\alpha^2+\alpha+\alpha^{9-7})X+\alpha^3
=\alpha^0X^4-(\alpha+1)X^3+(\alpha+\alpha^3)X^2-\alpha X+\alpha^3
=\alpha^0X^4-\alpha^3X^3+\alpha^0X^2-\alpha^1X+\alpha^3

Karena -\alpha^i=\alpha^i disebabkan pada biner +1 = -1, maka kita dapatkan polynom generator yaitu

=\alpha^0X^4+\alpha^3X^3+\alpha^0X^2+\alpha^1X+\alpha^3

Contoh Decoding Kode Reed-Solomon

Jika polynom yang diterima adalah

r(X)=\alpha^2X^6+\alpha^2X^4+X^3+\alpha^5X^2

Mencari sindrom dengan cara:
Jumlah sindrom adalah N-K = 7-3 = 4 buah sindrom

S_i=r(\alpha^i), i=1,2,3,...,N-K

S_1=r(\alpha^1)=\alpha^2\cdot\alpha^6+\alpha^2\cdot\alpha^4+\alpha^3+\alpha^5\alpha^2
= \alpha^8+\alpha^6+\alpha^3+\alpha^7
=\alpha^{8-7}+\alpha^6+\alpha^3+\alpha^{7-7}
=\alpha+\alpha^2+1+\alpha+1+1
=\alpha^2+1=\alpha^6

S_2=r(\alpha^2)=\alpha^2\cdot\alpha^{2\cdot 6}+\alpha^2\cdot\alpha^{2\cdot 4}+\alpha^{2\cdot 3}+\alpha^5\cdot\alpha^{2\cdot 2}

Blibiografi:

[1] I. S. Reed and G. Solomon, “Polynomial Codes over Certain Finite Fields,”J. Soc. Ind. Appl. Math., 8, pp. 300-304, June 1960.
[2] B. Sklar, Reed-Solomon Code,
[3] Sugihartono, Slide Kuliah Pengkodean Kanal, STEI, ITB, 2011

Kata-kata Hamming sering muncul sebagai Hamming Weight (Bobot Hamming), Hamming Distance (Jarak Hamming), Hamming Window

Parameter penting di dalam block code adalah jarak minimum (minimum distance). Parameter ini menentukan deteksi error acak dan juga kemampuan untuk mengkoreksi error dari sebuah kode.

Untuk suatu vektor yang terdiri dari bilangan biner. Maka Bobot Hamming adalah jumlah nonzero yang ada pada vektor tersebut.

Contoh: \overrightarrow{v}=(1 0 0 1 0 1 1) memiliki bobot Hamming 4.

Sedangkan jika ada dua vektor bilangan biner dengan ukuran yang sama, maka jarak Hamming adalah jumlah posisi yang berbeda di antara kedua vektor tersebut.

Contoh: \overrightarrow{w}=(0 1 0 0 0 1 1), maka jarak Hamming antara kedua vektor tersebut adalah 3, yaitu perbedaan di posisi ke-0, ke-1 dan ke-3.

… bersambung :)

Bibliografi:

1. S. Lin, D. J. Costello, Error Control Coding: Fundamentals and Applications, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey: 1983.

FFT (Fast Fourier Transform) adalah algoritma yang digunakan untuk menghitung DFT (Descrete Fourier Transform) dengan cepat.

Berikut ini penjelasan yang diterjemahkan dari [1] mengenai jenis algoritma FFT yang dipakai pada Matlab:

Fungsi FFT pada Matlab (fft, fft2, fftn, ifft, ifft2, ifftn) berdasarkan pada library yang disebut FFTW [2], [3]. Untuk menghitung N-point DFT ketika N adalah gabungan (Ketika N=N^1N^2), FFTW library menguraikan masalah dengan menggunakan algoritma Cooley-Turkey [4], yang pertama kali dilakukan adalah menghitung N^1 mentransformasi ukuran N^2, dan kemudian menghitung N^2 mentransformasi ukuran N^1.

Penguraian tersebut diterapkan secara rekursif pada kedua titik DFT N^1 dan N^2 hingga masalahnya terselesaikan dengan menggunakan satu dari beberapa machine-generated fixed-size “codelets.”

Codelets tersebut pada gilirannya menggunakan beberapa kombinasi algoritma, termasuk variasi dari Cooley-Turkey [5], algoritma prime factor [6], algoritma split-radix [7]. Faktorisasi khusus dari N dipilih secara heuristis.

Ketika N adalah bilangan primer, FFTW library pertama kali menguraikan masalah N-point ke dalam tiga masalah (N-1)-point dengan menggunakan algoritma Rader [8]. Ia kemudian menggunakan penguraian Cooley-Tukey untuk menghitung (N-1)-point DFT.

Untuk kebanyakan N, masukan real DFT secara kasar membutuhkan setengah dari waktu menghitung DFT dengan masukan bilangan kompleks. Bagaimanapun juga, ketika N mempunyai faktor primer yang besar, maka perbedaan kecepatan akan kecil atau bahkan tidak ada perbedaannya.

Waktu eksekusi fft tergantung pada panjang transformasi. Ia akan lebih cepat untuk pankat dari 2. Kecepatannya juga hampir sama untuk faktor primer yang kecil.

Kecepatan fft dapat ditingkatkan dengan menggunakan fungsi fftw yang mengendalikan optimisasi algoritma yang digunakan untuk menghitung FFT dari ukuran dan dimensi tertentu.

FFTW adalah sebuah koleksi fast C routines yang gratis untuk menghitung DFT dalam dimensi satu atau lebih. Termasuk transformasi bilangan kompleks, real, simetris, dan paralel. Dan juga dapat menangani secara efisien ukuran array yang berubah-ubah. FFTW secara khusus lebih cepat dari pada implementasi FFT lain yang tersedia untuk umum, dan bahkan bersaing dengan library buatan vendor. Untuk mencapai kinerja ini, FFTW menggunakan teknik novel code-generation dan runtime self-optimization [9].

Inovasi di dalam FFTW terdiri dari dalam memiliki berbagai composable solver, yang merepresentasikan algoritma FFT yang berbeda dan strategi implementasi yang mempunyai kombinasi ke dalam rencana khusus untuk ukuran yang diberikan dapat ditentukan pada runtime menurut karakteristik mesin/compiler kita. Arsitektur software yang aneh ini mengizinkan FFTW untuk beradaptasi dirinya kepada hampir semua mesin. Ada tiga hal yang membuat FFTW begitu cepat [10]:
- FFTW menggunakan berbagai algoritma FFT dan gaya implementasi yang dapat disusun berubah-ubah untuk beradaptasi terhadap mesin.
- FFTW menggunakan pembangkit kode untuk menghasilkan highly-optimized routines untuk menghitung transformasi yang kecil.
- FFTW menggunakan explicit divide-and-conquer untuk mengambil keuntungan dari hierarki memori.

Untuk lebih detail dapat dilihat pada paper [11].

Referensi:

[1] http://www.mathworks.com/help/techdoc/ref/fft.html
[2] FFTW (http://www.fftw.org)
[3] Frigo, M. and S. G. Johnson, “FFTW: An Adaptive Software Architecture for the FFT,” Proceedings of the International Conference on Acoustics, Speech, and Signal Processing, Vol. 3, 1998, pp. 1381-138
[4] Cooley, J. W. and J. W. Tukey, “An Algorithm for the Machine Computation of the Complex Fourier Series,” Mathematics of Computation, Vol. 19, April 1965, pp. 297-30
[5] Oppenheim, A. V. and R. W. Schafer, Discrete-Time Signal Processing, Prentice-Hall, 1989, p. 611.
[6] Oppenheim, A. V. and R. W. Schafer, Discrete-Time Signal Processing, Prentice-Hall, 1989, p. 619.
[7] Duhamel, P. and M. Vetterli, “Fast Fourier Transforms: A Tutorial Review and a State of the Art,” Signal Processing, Vol. 19, April 1990, pp. 259-299.
[8] Rader, C. M., “Discrete Fourier Transforms when the Number of Data Samples Is Prime,” Proceedings of the IEEE, Vol. 56, June 1968, pp. 1107-1108.
[9] http://www.fftw.org/faq/section1.html#whatisfftw
[10] http://www.fftw.org/faq/section4.html#howworks
[11] M. Frigo and S. G. Johnson, “FFTW: An Adaptive Software Architecture for the FFT,” Proc. ICASSP 3, 1381 (1998)

Galois Filed (dibaca Medan Galoa) direpresentasikan oleh GF(q). dimana q adalah prime p maupun pangkat dari p. Untuk biner maka p adalah 2.

Misalkan a adalah elemen nonzero pada GF(q), maka akan ada bilangan bulat yang terkecil n sehingga a^n=1. Bilangan bulat n ini disebut orde dari elemen medan a. Di dalam medan terbatas GF(q), elemen nonzero a disebut primitif jika order a adalah q-1. Sehingga, pangkat dari elemen primitif membangkitkan seluruh elemen nonzero GF(q). Setiap medan terbatas memiliki elemen primitif.

Sebagai contoh kita ambil bilangan bulat 3 di dalam GF(7), maka kita dapatkan:

3^1=3
3^2=9-2=7
3^3=3.3^2=3.2=6
3^4=3.3^3=18-14=4
3^5=3.3^4=3.4=12-7=5
3^6=3.3^5=3.5=15-14=1

Maka bisa kita lihat diatas bahwa n=6=7-1, oleh karena itu orde bilangan bulat 3 adalah 6 yang merupakan q-1 yaitu 7-1=6, sehingga bilang bulat 3 adalah elemen primitif dari GF(7)

Contoh lain kita ambil bilangan bulat 4 di dalam GF(7). Maka bisa kita lihat pangkat 4 di bawah ini:

4^1=4
4^2=16-14=2
4^3=4.4^2=8-7=1

Bisa kita lihat bahwa order dari bilangan bulat 4 adalah 3. Maka 4 bukanlah elemen primitif dari GF(7).

Contoh lain adalah elemen primitif \alpha untuk suatu GF(q) dengan hasil sebagai berikut:

\alpha^0=1
\alpha^1=5
\alpha^2=4=25-21
\alpha^3=6=20-14
\alpha^4=2=30-28
\alpha^5=3=10-7
\alpha^6=15-14=1

maka bisa kita dapatkan bahwa elemen primitif tersebut adalah \alpha adalah 5, q adalah 7. Jadi bilangan bulat 5 adalah elemen primitif dari GF(7).

Satu medan Galois memiliki sekurang-kurangnya satu buah elemen primitif. Setiap elemen nonzero lainnya dapat dituliskan sebagai pangkat dari lemen primitif tersebut.

Kode dari medan biner GF(2) dan perluasannya GF(2^m) merupakan kode yang paling banyak digunakan secara luas di dalam transmisi data digital dan sistem storage dikarenakan informasi sistem ini dikodekan secara universal di dalam bentuk biner untuk alasan praktis.

irreducible polynomial p(X) dengan  derajat m disebut primitif jika n bernilai n=2^m-1 dan juga nilai n tersebut harus merupakan bilangan bulat positif yang terkecil untuk case p(X) membagi X^n+1

Sebagai contoh, p(X)=X^4+X+1 dapat membagi X^{15}+1 dan tidak bisa membagi X^n+1  untuk nilai 1\leq n<15.  Berarti X^4+X+1 merupakan polynomial primitif untuk derajat m bernilai 4.

Contoh lain adalah X^3+X+1 merupakan polynomial primitif untuk derajat m yang bernilai 3.

Sedangkan contoh yang bukan polynomial primitif adalah X^4+X^3+X^2+X+1 karena bisa membagi sampai n bernilai 5 yaitu X^5+1 sedangkan tidak berharga n=2^m-1.

Tidak mudah untuk mengenali primitif polynomial. Tapi sudah ada list yang menunjukkan primitif polynomial jumlah terkecil dengan derajat dari m di bawah ini. Untuk sebuah  m, maka ada kemungkinan lebih dari satu primitif dari derajat m.

Berikut list primitif polynomial

m=3 \longrightarrow 1+X+X^3
m=4 \longrightarrow 1+X+X^4
m=5 \longrightarrow 1+X^2+X^5
m=6 \longrightarrow 1+X+X^6
m=7 \longrightarrow 1+X^3+X^7
m=8 \longrightarrow 1+X^2+X^3+X^4+X^8
m=9 \longrightarrow 1+X^4+X^9
m=10 \longrightarrow 1+X^3+X^{10}
m=11 \longrightarrow 1+X^2+X^{11}
m=12 \longrightarrow 1+X+X^4+X^6+X^{12}
m=13 \longrightarrow 1+X+X^3+X^4+X^{13}
m=14 \longrightarrow 1+X+X^6+X^{10}+X^{14}
m=15 \longrightarrow 1+X+X^{15}
m=16 \longrightarrow 1+X^3+X^{12}+X^{16}
m=17 \longrightarrow 1+X^3X^{17}
m=18 \longrightarrow 1+X^7+X^{18}
m=19 \longrightarrow 1+X+X^2+X^5+X^{19}
m=20 \longrightarrow 1+X^3+X^{20}
m=21 \longrightarrow 1+X^2+X^{21}
m=22 \longrightarrow 1+X+X^{22}
m=23 \longrightarrow 1+X^5+X^{23}
m=24 \longrightarrow 1+X+X^2+X^7+X^{24}

\alpha merupakan elemen primitif dari GF(2^m). Untuk membangun GF(2^m) bisa kita lakukan sebagai contoh berikut

Untuk GF(2^3) dengan derajat m=3 yang mempunyai polynomial primitf yaiut 1+X+X^3, maka kita bisa membangun elemen  dengan cara p(\alpha)=1+\alpha+\alpha^3=0.  Sehingga kita dapatkan bahwa \alpha^3=1+\alpha.

Identitas \alpha^3=1+\alpha = \alpha+1 digunakan untuk membentuk representasi polynomial untuk elemen GF(2^3).

Contoh di bawah ini untuk membentuk dari representasi pangkat = representasi polynomial = representasi biner = representasi desimal.

0 = 0 = 000 = 0
\alpha^0 = 1 = 001 = 1
\alpha^1 = \alpha = 010 = 2
\alpha^2 = \alpha^2 = 100 = 4
\alpha^3=\alpha+1=011 = 3
\alpha^4=\alpha\cdot\alpha^3=\alpha(1+\alpha) =\alpha+\alpha^2 = 110 = 6
\alpha^5 = \alpha\cdot\alpha^4=\alpha(\alpha+\alpha^2)=\alpha^2+\alpha^3 =\alpha^2+1+\alpha=111=7
\alpha^6=\alpha\cdot\alpha^5=\alpha(\alpha^2+\alpha+1) =\alpha^3+\alpha^2+\alpha=1+\alpha+\alpha^2+\alpha
=\alpha^2+1=101=5

Berikut ini adalah konstruksi elemen untuk GF(2^4) dengan derajat m=4 dengan polynomial primitif adalah 1+X+X^4. Sehingga p(\alpha)=1+\alpha+\alpha^4=\alpha^4+\alpha=1=0. Kemudian kita dapatkan identitas \alpha^4=\alpha+1

0=0=0000=0
\alpha^0=1=0001=1
\alpha^1=\alpha^1=0010=2
\alpha^2=\alpha^2=0100=4
\alpha^3=\alpha^3=1000=8
\alpha^4=\alpha+1=0011=3
\alpha^5=\alpha\cdot\alpha^4=\alpha(\alpha+1)=\alpha^2+\alpha =0110=6
\alpha^6=\alpha\cdot\alpha^5=\alpha(\alpha^2+\alpha)=\alpha^3+ \alpha^2=1100=12
\alpha^7=\alpha\cdot\alpha^6=\alpha(\alpha^3+\alpha^2)=\alpha^4+ \alpha^3=\alpha+1+\alpha^3
=\alpha^3+\alpha+1=1011=11

\alpha^8=\alpha\cdot\alpha^7=\alpha(\alpha^3+\alpha+1) = \alpha^4+\alpha^2+\alpha
=\alpha+1+\alpha^2+\alpha=\alpha^2+1=0101=5

\alpha^9=\alpha\cdot\alpha^8=\alpha(\alpha^2+1)=\alpha^3+\alpha = 1010 = 10
\alpha^{10}=\alpha\cdot\alpha^9=\alpha(\alpha^3+\alpha) =\alpha^4+\alpha^2 = \alpha+1+\alpha^2
=\alpha^2+\alpha+1=0111=7

\alpha^{11}=\alpha\cdot\alpha^{10}=\alpha(\alpha^2+\alpha+1)= \alpha^3+\alpha^2+\alpha=1110=14

\alpha^{12}=\alpha\cdot\alpha^{11}=\alpha(\alpha^3+\alpha^2+\alpha) = \alpha^4+\alpha^3+\alpha^2
=\alpha+1+\alpha^3+\alpha^2= \alpha^3+\alpha^2+\alpha+1=1111=15

\alpha^{13}=\alpha\cdot\alpha^{12}=\alpha(\alpha^3+\alpha^2+\alpha+1 =\alpha^4+\alpha^3+\alpha^2+\alpha
=\alpha+1+\alpha^3+\alpha^2+ \alpha=\alpha^3+\alpha^2+1=1101=13

\alpha^{14}=\alpha\cdot\alpha^{13}=\alpha(\alpha^3+\alpha^2+1)= \alpha^4+\alpha^3+\alpha
=\alpha+1+\alpha^3+\alpha=\alpha^3+1= 1001=9

Contoh penjumlahan GF(2^3)

1+1=\alpha^0+\alpha^0=001+001=000=0
7+7=\alpha^5+\alpha^5=\alpha^2+\alpha+1+\alpha^2+\alpha+1
=111+111=000=0
3+6=\alpha^3+\alpha^4=\alpha+1+\alpha^2+\alpha
=011+110=101=5

Contoh perkalian GF(2^3)
3x3=\alpha^3\cdot\alpha^3=\alpha^3(\alpha+1)=\alpha^4+\alpha^3
= \alpha^2+\alpha+\alpha+1= 110+011=101=5

Bibliografi:
1. S. Lin, D. J. Costello, Error Control Coding: Fundamentals and Applications, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey: 1983.
2. Sugihartono, Slide Kuliah Pengkodean Kanal, STEI ITB, 2011.

Kira-kira hampir lima tahun yang lalu di depan lift lantai 8 wisma pondok indah 1, ketika kami mau shalat berjama’ah ke masjid di seberang kantor.

saya dan teman saya, yang sekarang ini sedang berada di california usa, terlibat pembicaraan tentang doa yang kami panjatkan karena istri kami sama-sama sedang hamil yang umur kehamilan hanya berbeda tiga bulan saja.

Teman saya menceritakan bahwa doanya adalah rabbi habli minashsholihin, cukup itu saja dari Al Quran, diulang-ulang terus.

Kalau saya ketika itu doanya adalah Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatinaa qurrata a’yun. waktu itu saya sudah mendengar dan tahu tentang doa rabbi habli minashsholihin tapi jarang saya aplikasikan karena belum begitu saya pelajari. ketika itu juga saya agak cenderung menyukai anak kecil perempuan, karena lucu. Jadi kalau baca doa qurrata a’yun yaitu menyejukkan pandangan ya yang terbayang anak perempuan yang menyejukkan pandangan :) .

Alhasil 3 Januari 2007, Alhamdulillah Allah mengamanahi saya dan istri anak perempuan :) dan teman saya tersebut 3 bulan kemudian istrinya melahirkan anak laki-laki.

Ketika itu saya belum ada analisis mengenai doa Rabbi Habli minashshalihin.

Suatu hari ternyata istri teman saya hamil kembali, sedangkan istri saya belum hamil. Saya tanyakan lagi apa kali ini doanya. Kata teman saya tersebut doanya masih sama aja dan diulang ulang terus. Dan ketika lahiran, ternyata anak laki-laki lagi.

Ketika itu saya berfikir:
1. Rabbi habli minash shalihin secara harfiah shalihin adalah laki-laki yang shaleh. Jadi kita minta kepada Allah agar mengarunai anak laki-laki yang shaleh. kalau anak perempuan shaleh adalah shalihatin : )
2. Nabi Ibrahim a.s yang berdoa dengan doa tersebut kedua anaknya yang disebutkan di Al Quran adalah laki-laki yaitu Nabi Ismail a.s dan Nabi Ishaq a.s
3. Doa tersebut ada di Al Quran. Jadi teringat waktu ikutan mabit tentang doa Al Quran di Pusdai yang disampaikan oleh Ustadz Syaiful Islam, Lc bahwa doa yang tertinggi tingkat dikabulkannya adalah doa yang diambil dari Al Quran, karena Al Quran adalah Kalam (Perkataan) Allah SWT.
4. Kalau kita menggunakan doa tersebut dan berniat minta anak laki-laki yang shaleh, dan doa tersebut dari Al Quran dan terbukti Nabi Ibrahim a.s anaknya laki-laki, maka kemungkinan besar Allah akan mengabulkannya. Dan juga sudah terbukti dengan teman saya yang hanya berdoa pake doa tersebut anaknya laki-laki keduanya.

Setelah anak pertama disapih setelah dua tahun ASI, saya dan istri merencanakan anak kedua, dan Alhamdulillah Allah izinkan. Sebagai manusia ya fitrahnya kalau anak pertama perempuan, maka anak keduanya kemungkinan besar ingin anak laki-laki yang meneruskan nasab. Maka kemudian selain saya berdoa rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurraata a’yun dari Al Quran, maka saya juga rajin membaca rabbi habli minashshalihin dengan niat di hati minta anak laki-laki. Subhanallah Alhamdulillah Allahuakbar, ternyata benar, Allah karuniakan anak laki-laki, semoga Allah jadikan anak yang shaleh, begitu juga anak pertama saya yang perempuan menjadi anak yang shalehah. Amin.

Kemudian saya ceritakan analisis saya ini terhadap doa rabbi habli minashshalihin kepada beberapa teman-teman. Subhanallah ada beberapa teman yang baru menikah maupun sudah menikah, mengamalkan doa tersebut dan anaknya adalah laki-laki.
1. Teman asal Balikpapan ini mengamalkan doa tersebut, dan ketika lahiran ternyata anaknya laki-laki. Ketika saya tanyakan dia bilang mengamalkan doa tersebut.
2. Kemudian teman dari solo ini anak pertamanya adalah perempuan, kemudian ketika istrinya hamil lagi, diamalkan doa tersebut dan ketika lahir anaknya laki-laki. Ketika saya tanyakan apakah mengamalkan doa tersebut. Dia bilang it’s work.
3. Ustadz lulusan pesantren di Blitar ini pandai bahasa Arab dan baru menikah dan istrinya hamil. Ketika itu ustadz mendebat saya bahwa kata shalihin di doa tersebut bisa untuk laki-laki dan perempuan. Saya bilang bahwa ya itu tergantung niat kita apakah mau anak laki-laki secara harfiah shalihin adalah laki-laki shaleh. dan juga Nabi Ibrahim a.s yang mengamalkan doa tersebut anaknya laki-laki. Suatu hari saya silaturahim dengannya yang anaknya sudah lahir laki-laki. Dia berbisik kepada saya, doa dari sampean manjur Pak. : )
4. Barusan dapat sms dari teman asal Tanggerang ini, yang anak pertamanya adalah perempuan. Dan dia sms hasil usg istrinya yang lagi hamil sekarang ini adalah laki-laki, dan dia mengamalkan doa tersebut. Wallahua’lam kita tunggu ketika lahir saja : )
5. Kalau yang ini ketika saya menganalisis doa ini anaknya yang kedua laki-laki sudah lahir, tapi ketika kami diskusi tentang doa yang dipanjatkan oleh pria Malang yang pernah jadi Country Manager ini ketika hamil anak kedua, ternyata dia mengamalkan doa rabbi habli minashshalihin, dan anak keduanya tersebut adalah laki-laki. Sedangkan anak pertamanya adalah perempuan. jadi ada tambahan fakta lagi :)

Ya begitulah kira-kira sharing pengalaman cerita seputar doa Nabi Ibrahim a.s di dalam Al Quran. tentu saja yang perlu kita pahami adalah takdir yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita adalah yang terbaik buat kita apakah anak tersebut laki-laki atau perempuan.

Wallahua’lam bishowab

Konvolusi pada domain waktu sama dengan perkalian pada domain frekuensi yang kemudian dilakukan inverse transformasi Fourier.

z(t) = x(t) * y(t)  <=> Z(w) = X(w) Y(w)

Dalam operasi matlab untuk konvolusi menggunakan command conv

z=conv(x,y);

jika dilakukan pada domain frekuensi maka tentukan dulu panjang hasil konvolusi, misalkan d. Maka perlu memakai operasi fft(X,N) yaitu FFT pada sejumlah titik N, jika vektor X kurang dari sejumlah N titik maka akan ditambah zero, dan jika melebihi N, maka akan dipotong.

X = fft(x,d);

Y = fft(y,d);

Z=X.*Y;

z = ifft(Z);

Contoh:

>>x=[1 2 3]
x =
1 2 3

>>y=[4 5 6]
y =
4 5 6

>>z=conv(x,y)
z =
4 13 28 27 18

>>d=length(z)
d =
5

>>X=fft(x,5)
X =
Columns 1 through 3
6.0000 -0.8090 – 3.6655i 0.3090 + 1.6776i
Columns 4 through 5
0.3090 – 1.6776i -0.8090 + 3.6655i

>>Y=fft(y,5)
Y =
Columns 1 through 3
15.0000 0.6910 – 8.2820i 1.8090 + 2.7674i
Columns 4 through 5
1.8090 – 2.7674i 0.6910 + 8.2820i

>>Z=X.*Y
Z =
Columns 1 through 3
90.0000 -30.9164 + 4.1675i -4.0836 + 3.8900i
Columns 4 through 5
-4.0836 – 3.8900i -30.9164 – 4.1675i

>>zi=ifft(Z)
zi =
4.0000 13.0000 28.0000 27.0000 18.0000

Dapat ide dari
http://www.mathworks.com/matlabcentral/newsreader/view_thread/72
430

IFFT (Inverse Fast Fourier Tansform)

y=ifft(X);

menghasilkan inverse Descrete Fourier Transform (DFT) dari vektor X, dihitung dengan menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT). Jika X ada sebuah matriks, ifft menghasilkan inverse DFT masing-masing kolom pada matriks. ifft mengetes X untuk melihat apakah vektor X sepanjang dimensi aktif conjugate symmetric. Jika demikian, perhitungan akan lebih cepat dan keluaran adalah real [1].

Setelah respon frekuensi kanal telah diukur, representasi domain waktu (respon impulse) dapat dicapai dengan IFFT. Sinyal yang diukur dengan menggunakan VNA (Vector Network Analyzer) adalah respon frekuensi kanal. Inverse Fourier Transform digunakan untuk mentransformasi data yang diukur pada domain frekuensi kepada domain waktu. IFFT biasanya diambil langsung dari raw vektor data yang diukur. Proses ini memungkinkan karena penerima memiliki tahap down-conversion dengan perangkat mixer. Metode ini disebut sebagai complex baseband IFFT yang mencukupi untuk digunakan dalam memodelkan sistem pita lebar dan pita sempit [2].

Ada dua buah teknik yang umum digunakan untuk menkonversi sinyal ke domain waktu, yaitu Pendekatan Pemrosesan Sinyal Hermitian dan Pendekatan Conjugate. Pemrosesan sinyal Hermitian yang menghasilkan bentuk pulsa yang lebih baik. Sedangkan sebuah test menunjukkan bahwa pendekatan Conjugate lebih mudah dan efisien untuk mendapatkan bentuk pulsa yang hampir sama [2].

Pemrosesan Sinyal Hermitian 

Dengan menggunakan pemrosesan Hermitian, sinyal pass-band didapatkan dengan zero padding dari frekuensi terendah turun ke DC (Direct Current), ambil conjugate sinyal dan kemudian cerminkan ke frekuensi negatif. Kemudian hasilnya ditransformasikan ke domain waktu dengan menggunakan IFFT. Sinyal spektrum sekarang ada di sekitar DC. Hasil spektrum yang double sided sesuai dengan sinyal real. Resolusi waktu dari sinyal yang diterima lebih dari dua kali dari yang dicapai oleh pendekatan baseband. Perbaikan keakuratan ini sangat penting, terutama untuk pemodelan kanal Ultra Wide Band (UWB) yang bertujuan untuk memisahkan lintasan sinyal yang berbeda dengan akurat [2].

Gambar 1. Metode Hermitian

Pendekaan Conjugate

Metode conjugate ini melakukan pencerminan conjugate dari sinyal pass-band tanpa zero padding. Yang digunakan hanya sisi kiri pada spektrum, kemudian sinyal dikonversikan  menggunakan IFFT dengan ukuran window yang sama dengan metode Hermitian. Hasil dari metode ini sangat mungkin mirip dengan hasil Hermitian dengan zero padding. Bagaimanapun juga metode conjugate ini lebih efisien dalam hal kompleksitas pemrosesan data yang lebih mudah memanipulasi perhitungan matriks pada tahap post-processing dan kebutuhan memori yang lebih kecil [2].

Ada tiga konsep yang sangat penting mengenai bentuk gelombang domain waktu dengan frequency-dependent equivalent [3] :

1. Spektrum dari bentuk gelombang domain waktu mempunyai dua komponen frekuensi positif dan negatif.

2. Spektrum dari bentuk gelombang domain waktu yang bernilai hanya positif adalah bilangan kompleks.

3. Karena sinyal domain waktu yang dapat diamati secara fisik tidak mempunyai nilai imaginer,  maka sinyal domain waktu ini harus real yang dijamin bernilai real jika frekuensi positif dari hasil transformasi Fourier merupakan compleks conjugate darin frekuensi negatifnya [LePage, 1980].

Secara umum mengukur transfer function di laboratorium dengan menggunakan VNA lebih mudah dari pada mengukur respon impulse karena ideal impulse mustahil dibuat. Karena perangkat laboratorium tidak dapat mengukur frekuensi negatif maka frekuensi negatif ini harus dibuat dari complex conjugate frekuensi positif yang diukur [3].

Contoh sederhana menggunakan matlab, misalnya kita punya 3 buah bilangan kompleks.

>> fasym=[1+i 2+i 3+i]

fasym =

1.0000 + 1.0000i 2.0000 + 1.0000i 3.0000 + 1.0000i

>> fcon=fliplr(conj(fasym))

fcon =

3.0000 – 1.0000i 2.0000 – 1.0000i 1.0000 – 1.0000i

>> fsym=[fcon fasym]

fsym =

Columns 1 through 3

3.0000 – 1.0000i 2.0000 – 1.0000i 1.0000 – 1.0000i

Columns 4 through 6

1.0000 + 1.0000i 2.0000 + 1.0000i 3.0000 + 1.0000i

>> f0=sum(abs(fsym))

f0 =

13.6251

>> f=[f0 fsym]

f =

Columns 1 through 3

13.6251 3.0000 – 1.0000i 2.0000 – 1.0000i

Columns 4 through 6

1.0000 – 1.0000i 1.0000 + 1.0000i 2.0000 + 1.0000i

Column 7

3.0000 + 1.0000i

>> t=ifft(f)

t =

Columns 1 through 5

3.6607 2.7222 1.3502 1.6460 1.2878

Columns 6 through 7

1.4878 1.4704

Referensi:

[1] http://www.mathworks.com/help/techdoc/ref/ifft.html

[2] I. Oppermann, M. Hamalainen,  J. Iinatti, UWB Theory and Applications, John Wiley and Sons, England: 2004.

[3] S. H. Hall, H. L. Heck, Advanced Signal Integrity for High-Speed Digital Designs, John Wiley and Sons, Canada: 2009.

Tipe data Boolean diambil dari nama seorang matematikawan abad 19 yang bernama George Boole. Tipe data jenis ini hanya mengenal tiga harga yaitu: true, false, dan unkown. [1]

Floating point berarti titik desimal bisa pindah letaknya bervariasi seperti: 1.2345, 12.345, 123.45. Tipe data Single hanya bisa sampe 7 digit, jika lebih dari 7 digit akan dibulatkan. Tipe data Double bisa sampe 15 digit sehingga lebih akurat dibandingkan dengan tipe data Double. [2]

Referensi:

[1] A. Oppel, R. Sheldon, SQL: a beginnner’s guide, McGraw-Hill edisi ketiga, 2009.

[2] http://www.techrepublic.com/article/comparing-double-vs-single-data-types-in-vb6/5978932

12_Dalil_Sholat_Berjama_ah A

> open docs.google.com –> Log in

> click upload

> centang box converts document …

> select file to upload

> click start upload

note: jika file word doc kurang dari 1 MB dan untuk ppt kurang dari 10 MB bisa diconver dari word doc ke google doc, jika lebih dari 1 MB untuk word doc dan lebih dari 1 MB untuk ppt karena banyak gambar maka lebih baik gambarnya didelete dulu, dan baru kemudian gambarnya diupload lagi terpisah

> kemudian setelah kembali ke google doc, pilih file yang sudah diupload, arahkan kursor ke judul yang ingin diupload

> click Actions

> click Share…

> click Sharing settings

> click change, pilih public on the web, save

> add people, isi email address, pilih can edit, click share

> close

kemudian masuk ke website yang dibuat dari google

> open sites.google.com

> masukkan email dan password

> klik link nama site yang akan dimasuki

> pilih halaman yang ingin diupload file google doc

> klik sunting halaman yang ada gambar pinsilnya

> upload google doc

Host: Windows XP, Netbook Acer Aspire One, Modem HSPA Sierra 21 Mbps.

Ketika Modem diaktifkan, pada folder Network Connection muncul pada bagian LAN or High-Speed Internet, Icon Wireless Network Connection 6.

Open Wireless Network Connection 6 –> Properties –> Advanced:

- Click Settings … pada bagian windows firewall –> off

- Pada bagian Internet Connection Sharing: Click Allow other network users to connect through this computer’s Internet connection. Choose Wireless Network Connection pada box Home networking Connection

The IP address for wireless network adapter for wifi (ad hoc)  will be automatically set IP Address 192.168.0.1 and subnet mask 255.255.255.0, when you configure wireless network adapter with device modem HSPA for internet connection sharing as above

- Click OK

Don’t forget if you install antivirus, to off the firewall in the antivireus proram. In my case is McAfee –> choose off for firewall

Nex Step, still in XP, folder Network Connection:

- Open Wireless Network Connections with device Wireless Network Adapter

- Click Properties –> Wireless Networks:

- Click Advanced –> Choose Computer-to-Computer (ad hoc) networks only –> Close

-  Click Add… for Preferred Network

- Part Association: Fill Network Name (SSID): (for exampel) Reza, Tick the box for Connect even if this network is not broadcasting, Choose Open for Network Authentication, Choose Disabled for Data encryption, Tick The key is provided for me automatically

- Click part Connection: Tick connect when this network is in range

Host Part XP is finish

Client Win 7

- Open Network and Sharing Center

- Click Change adapter settings

- Click twice at Wireless Connection with Device Wireless Network Adapter (Wifi for ad hoc)

- Click Properties

- Part Networking: Click Internet Protocol Version 4 (TCP/IP v4), click properties, IP Address: 192.168.0.2, Subnet Mask: 255.255.255.0, Gateway: 192.168.0.1, DNS: 192.168.0.1 –> OK –> Close –> Close

After we finish to set all of this

Connect wireless connection to SSID Reza for both of the computer with XP and also Win 7

Alhamdulillah : )

Update:

We do not have to set IP Static, we can use IP Address automatic for client side.

1. Bekas Tinjuan Nabi Musa pada Sebuah Batu

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Nashir] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] dari [Ma'mar] dari [Hammam bin Munabbih] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang bani Israil jika mandi maka mereka mandi dengan telanjang, hingga sebagian melihat sebagian yang lainnya. Sedangkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam lebih suka mandi sendirian. Maka mereka pun berkata, “Demi Allah, tidak ada menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena ia adalah seorang laki-laki yang kemaluannya kena hernia. Lalu pada suatu saat Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya pada sebuah batu, lalu batu tersebut lari dengan membawa pakaiannya. Maka Musa lari mengejar batu tersebut sambil berkata ‘Wahai batu, kembalikan pakaianku! ‘ sehingga orang-orang bani Israil melihat Musa. Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, pada diri Musa tidak ada yang ganjil.’ Musa kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan satu pukulan.” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, sungguh pada batu tersebut terdapat bekas pukulan enam atau tujuh akibat pukulannya.” [HR. Shahih Bukhari: 269]

2. Memukul Mata Malaikat Maut

Telah menceritakan kepada kami [Mahmud] telah menceritakan kepada kami ['Abdur Razzaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Ibnu Thawus] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata,: “Suatu hari malaikat maut diutus kepada Musa ‘alaihissalam. Ketika menemuinya, (Nabi Musa ‘alaihissalam) memukul matanya. Maka malaikat maut kembali kepada Rabbnya dan berkata,: “Engkau mengutusku kepada hamba yang tidak menginginkan mati”. Maka Allah membalikkan matanya kepadanya seraya berfirman: “Kembalilah dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di atas punggung seekor lembu jantan, yang pengertiannya setiap bulu lembu yang ditutupi oleh tangannya berarti umurnya satu tahun”. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya: “Wahai Rabb, setelah itu apa?. Allah berfirman:: “Kematian”. Maka Nabi Musa ‘alaihissalam berkata,: “Sekaranglah waktunya”. Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memohon kepada Allah agar mendekatkannya dengan tanah yang suci (Al Muqaddas) dalam jarak sejauh lemparan batu”. Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku kesana, pasti akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan dibawah tumpukan pasir merah”. [HR. Shahih Bukhari: 1253]

Hadist serupa diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalur Yahya bin Musa dalam bab waafatu Musa ‘alaihissalam. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Al Hasan dan Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Hadist Hamad bin Salamah sampai ke Abu Hurairah r.a sebagai Hadist Marfu’. Imam Muslim juga menggunakan hadist Abdurrazak. Riwayat lengkap bisa dilihat buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir bagian Wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalaam. (Jika ada waktu, insyaAllah akan disalin dari buku tersebut tentang ini)

 

3. Termasuk yang Hampir Berbarengan dengan Rasulullah SAW ketika Bangkit  Pada Hari Kiamat kelak

Telah menceritakan kepadaku [Abdul 'Aziz bin Abdullah] mengatakan, telah menceritakan kepadaku [Ibrahim bin Sa'd] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu Salamah bin Abdurrahman] dan [Abdurrahman Al A'raj], keduanya menceritakan kepadanya, bahwa [Abu Hurairah] mengatakan; ada dua orang laki-laki saling mencaci, yang pertama muslim dan yang kedua yahudi, si muslim mengatakan; ‘Demi Dzat yang telah memilih Muhammad diatas seluruh manusia.’ Si yahudi tak mau kalah mengatakan; ‘Demi Dzat yang memilih Musa diatas seluruh manusia.’ Kata Abu Hurairah, si muslim kontan murka seketika itu dan menampar si yahudi. Si yahudi kontan mengadukan kasusnya kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, dan memberitahukan seluruh kasusnya bersama si muslim. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam lalu bersabda: “Jangan kalian memilih aku diatas Musa, sebab manusia pada hari kiamat nanti akan pingsan, dan akulah yang pertama-tama siuman, tak tahunya Musa juga telah siuman namun masih lemah disamping arsy, sehingga aku tak tahu apakah Musa diantara yang pingsan lalu siuman sebelumku, ataukah diantara yang Allah kecualikan (tidak pingsan).” [HR. Shahih Bukhari: 6036]

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Amru bin Yahya] dari [Ayahnya] dari [Abu Sa'id Al Khudzri] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pada hari kiamat semua manusia pingsan, tak tahunya saya dan Musa berpegangan dengan salah satu penyangga ‘arsy.” Sedang [Al Majisyun] berkata dari [Abdullah bin Fadll] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dan aku menjadi manusia yang pertama-tama dibangkitkan, tak tahunya Musa sudah menyangga arsy.”[HR. Shahih Bukhari: 6877]

4. Satu Pukulan yang Mematikan

Surat Al-Qoshash: 14-17

14. Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
15. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

16. Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

17. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah- kan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa.”

Referensi:

[1] Hadist Online, http://lidwa.com/app/

[2] Ibnu Katsir, Qishash Al-Anbiya (Kisah Para Nabi), Pustaka Azzam, Cetakan keempat belas, November 2007.

http://rezakahar.wordpress.com/bisniswirausahaperniagaanjualan/evas-co/bros-peniti-juntai/

Halaman / Page

Kategori

Kalender

Januari 2012
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Hasil Penilaian Pembaca

Arsip Tulisanku

Pengarang

Fasa Bulan / Moon Phase

Informasi Tentangmu :)

Jam Islami

Hitung Mundur Menyambut Ramadhan

Asmaul Husna 99

Pengunjung Online

Taushiyah

Prngunjung Online

Blog Stats

  • 130,853 hits

Author

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.