Dihalalkannya Zina oleh Sekelompok Manusia Pada Akhir Zaman


Telah bersabda Rasulullah saw, “Sungguh akan ada pada umatku beberapa kelompok manusia (kaum, bangsa) yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan alat musik.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya no.5590 dari Abu Amir atau Abu Malik Al Asy’ari. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Malik. Dalam kitab Shahihah Al Albani adalah no. 91. Sisa matan (sambungan) dari hadits ini memuat tetang pembenaman bumi dan perubahan kepada bentuk buruk yang akan terjadi terhadap umat ini).

Dari Abu Malik Al-Asy’ari, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sungguh akan ada sebagian umatku yang menghalalkan perzinaan, sutra, khamr, dan musik. Sungguh, akan ada orang-orang yang mendatangi para pembesar, mereka datang kepada pembesar itu pada sore hari dengan membawa binatang ternak, mereka didatangi -oleh orang miskin- untuk satu kebutuhan, lantas mereka berkata, “Kembalilah kepada kami besok!”, kemudian Allah menurunkan siksa kepada mereka pada malam hari, menistakan para pembesar itu, dan mengubah wajah orang-orang lain menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.” (HR. Shahih Bukhari)

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. [QS: Al Isra: 32]

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menuliskan bahwa Allah Ta’ala berfirman guna melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina, mendekatinya, dan berinteraksi dengan hal-hal yang dapat menimbulkan atau menyeret kepada perzinaan. “Dan janganlah kamu mendekati perzinaan. Sesungguhnya perzinaan itu merupakan perbuatan yang keji,” yakni dosa besar, ‘”dan sesuatu jalan yang buruk.” yakni perzinaan itu merupakan jalan dan perilaku yang terburuk.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umama, “Ada seorang pemuda belia menemui Nabi saw. Dia berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku berzina.” Maka orang-orang datang mengerumuninya lalu mencacinya. Mereka berkata, “Cukup, jangan kau teruskan.” Rasulullah bersabda, “Dekatkanlah dia.” Kemudian pemuda itu mendekati Nabi. Beliau bersabda, “Duduklah!” Pemuda itu duduk. Nabi bersabda, “Apakah kamu ingin bila ibumu berzina?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang pun tidak ingin bila ibunya berzina. Apakah kamu ingin anak putrimu berzina?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi bersabdan, “Orang-orang pun tidak ingin anak putrinya berzina. Apakah kamu ingin saudara perempuanmu berzina?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku menjadi tebusanmu.”  Nabi bersabda, “Orang-orang pun tidak ingin saudara-saudara perempuan mereka berzina. Apakah kamu ingin bibimu (dari ayahmu) berzina?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku menjadi tebusanmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang pun tidak ingin bibi mereka berzina. Apakah kamu ingin saudara ibumu berzina?” Dia menjawab, “TIdak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi bersabda, “ORang-orang pun tidak ingin bila saudara ibu mereka berzina.” Beliau memegang pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah qalbunya, dan jagalah kemaluannya.” Setelah itu, si pemuda tidak lagi melirik perempuan lain.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Jauhilah tujuh dosa besar.” Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah apa sajakah itu?” beliau saw menjawab,”Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari di hari pertemuan dengan musuh, menuduh wanita-wanita yang baik-baik, lengah lagi beriman melakukan zina.” (HR.Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Tidaklah seorang pezina yang berzina ketika dia berzina adalah orang beriman.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, at Tirmidzi dan al Hakim dari Abu Hurairoh juga bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila seseorang berzina maka telah keluarlah keimanan (dari dirinya) dan seakan-akan diatasnya terdapat naungan awan. Jika orang itu menghentikan (perbuatan itu) maka keimanan itu kembali kepadanya.

Salah satu ciri-ciri dari seorang pewaris surga Firdaus adalah Orang yang menjaga kemaluannya.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
(5) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
(6) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَ‌ٰلِكَ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
(7) Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

[QS: Al Mu’minun: 5-7]

أُولَـٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ
(10) Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
(11) (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

[QS: Al Mu’minun: 10-11]

Melanggar Jalan Yang Diharamkan Dan Kerusakan Yang Diakibatkannya

Karya: Ibnul Qayyim Al Jauzi dalam buku Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu

Setiap orang yang berakal jangan sampai meniti suatu jalan sebelum dia mengetahui apakah jalan itu memberinya keselamatan atau bencana, atau bisa menghantarkan ke tujuan tertentu, tujuan yang membuatnya selamat atau tujuan yang mencelakakan dirinya. Inilah jalan yang membawa kehancuran orang-orang terdahulu maupun sekarang, menghela orang yang menitinya ke tujuan yang buruk dan sumber kerusakan. Oleh karena itu Allah menjadikan zina sebagai jalan yang paling buruk. Firman-Nya,

“Dan, janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zia itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32)

Jika ini gambaran jalan zina, lalu bagaimana dengan jalan homoseks, yang dosa dan hukumannya dua kali lipat dari zina? Masalah ini akan dikupas lebih jauh di bagian mendatang. Yang pasti jalan zina adalah jalan yang paling buruk. Tempat kembali orang yang melakukannya adalah neraka Jahim, tempat yang paling buruk. Tempat tinggal bagi ruh mereka di alam Barzakh adalah tungku api, yang apinya terus menerus menyala dari bagian bawahnya. Jika apinya dinyalakan, maka dia menggelinjang, lalu kembali lagi seperti semula. Begitu terus keadaannya hingga Kiamat tiba, seperti kejadian yang dilihat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpinya. Padahal mimpi para Nabi merupakan wahyu yang tidak disangsikan kebenarannya.

Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shahihnya, dari hadits Samurah bin Jundab r.a, dia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seringkali bertanya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang bermimpi?” Lalu mimpi mereka itu diceritakan kepada beliau seperti apa yang dikehendaki Allah. Suatu sore beliau bersabda kepada kami, “Semalam aku didatangi dua orang yang diutus kepadaku.

Keduanya berkata kepadaku, “Lanjutkan!” Maka aku pun pergi bersama keduanya. Kami melewati seorang laki-laki yang tidur miring. Tiba-tiba ada orang lain yang berdiri di dekatnya sambil membawa batu yang besar, lalu menjatuhkan batu itu ke kepalanya, hingga kepalanya pecah dan batu itu juga berhamburan ke sana-sini. Orang kedua itu mengumpulkan lagi pecahan-pecahan batu itu, dan tidak menghampiri orang yang pertama melainkan kepalanya sudah kembali seperti semula. Kemudian orang kedua menghampirinya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kali.

Beliau bertanya, “Subhanallah, siapakah dua orang itu?”
Keduanya berkata, “Lanjutkan, Lanjutkan!” Maka kami pun pergi lagi. Lalu kami melewati seorang laki-laki yang tidur terlentang pada punggungnya, dan ada orang lain yang berdiri di dekatnya sambil membawa sebatang besi yang ujungnya bengkok. Orang kedua ini mendekati sebelah wajah orang yang pertama, mencabik-cabik ujung mulutnya hingga ke tengkuk, hidungnya hingga ke tengkuknya, matanya hingga ke tengkuknya. Kemudian beralih ke belahan wajah yang satunya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kali. Belum selesai dengan perbuatannya di satu belahan wajah, maka wajah yang satunya lagi kembali seperti semula. Kemudian dia beralih ke belahan wajah satunya lagi dan berbuat seperti yang dia perbuat pertama kalinya.

————————-
Kumpulan Hadist tentang Zina

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَاللِّسَانُ يَزْنِي وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ وَيُحَقِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ الْفَرْجُ

Telah menceritakan kepada kami [‘Affan] telah menceritakan kepadaku [Abdurrahman bin Ibrahim] berkata; telah menceritakan kepada kami [Al ‘Ala` bin Abdurrahman] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua mata berbuat zina, lisan berbuat zina, kedua tangan berbuat zina, kedua kaki berbuat zina dan kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” [HR. Imam Ahmad: 8963]

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِيُّ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah mengabarkan kepada kami [Abu Hisyam Al Makhzumi] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Suhail bin Abu Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan.” [HR. Shahih Muslim: 4802]

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Telah menceritakan kepada kami [‘Affan] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Suhail bin Abu Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya dari zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang membenarkan atau mendustakannya.” [HR. Imam Ahmad: 8170]

حَدَّثَنَا حَسَنٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ وَاهبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ عَلَى رَغْمِ أَنْفِ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ فَخَرَجْتُ لِأُنَادِيَ بِهَا فِي النَّاسِ قَالَ فَلَقِيَنِي عُمَرُ فَقَالَ ارْجِعْ فَإِنَّ النَّاسَ إِنْ عَلِمُوا بِهَذِهِ اتَّكَلُوا عَلَيْهَا فَرَجَعْتُ فَأَخْبَرْتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ عُمَرُ

Telah bercerita kepada kami [Hasan] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Lahi’ah] dari [Wahib Bin Abdullah] bahwa [Abu Darda’] berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa mengucapkan: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selian Allah yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya) ‘, maka dia akan masuk Surga.” Abu Darda’ berkata, “Aku bertanya, “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri.” Aku bertanya lagi, “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri.” Aku bertanya lagi, “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Sekalipun dia berbuat zina dan mencuri, meskipun Abu Darda’ tidak menyukainya.” Abu Darda’ pun berkata, “Maka aku pun keluar untuk menyampaikan hal itu kepada orang-orang, namun saat aku bertemu Umar dia pun berkata, “Kembalilah, karena jika manusia mengetahui hal ini mereka akan malas untuk beramal.” Maka aku kembali dan aku sampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau menjawab: “Benar apa yang dikatakan Umar.” [HR. Imam Ahmad: 26219]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ عَنْ مَعْمَرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ وَيُكَذِّبُهُ
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظُّهُ مِنْ الزِّنَا بِهَذِهِ الْقِصَّةِ قَالَ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ فَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ فَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي فَزِنَاهُ الْقُبَلُ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ قَالَ وَالْأُذُنُ زِنَاهَا الِاسْتِمَاعُ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin ‘Ubaid], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Tsaur] dari [Ma’mar], telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Ibnu Abbas], ia berkata; aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina anak keturunan Adam yang pasti ia jumpai, zina kedua mata adalah melihat, zina lidah adalah mengucap, zina hati adalah berangan dan bernafsu, dan kemaluan akan membenarkan hal tersebut atau mendustakannya.” Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma’il], telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Suhail bin Abu Shalih], dari [ayahnya], dari [Abu Hurairah], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak keturunan Adam memiliki bagiannya dari zina….” Dengan kisah ini, beliau bersabda: “Kedua tangan berzina dan zinanya adalah menyentuh, kedua kaki berzina dan zinanya adalah berjalan, mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa’id], Telah menceritakan kepada kami [Al Laits], dari [Ibnu ‘Ajlan], dari [Al Qa’qa’ bin Hakim] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah], dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kisah ini. Beliau mengatakan: “Dan zina telinganya adalah mendengar.” [HR. Abu Daud: 1840]

حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
وَقَالَ شَبَابَةُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepadaku [Mahmud bin Ghailan] telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah memberitakan kepada kami [Ma’mar] dari [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Ibnu ‘Abbas] mengatakan, belum pernah kulihat sesuatu yang lebih mirip dengan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan oleh [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya”. Dan [Syababah] mengatakan, telah menceritakan kepada kami [Warqa’] dari [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. [HR. Shahih Bukhari: 6122]

حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَيْنُ تَزْنِي وَالْقَلْبُ يَزْنِي فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nadhr] telah menceritakan kepada kami [Al Mubarak] dari [Al Hasan] dari [Abu Hurairah], dia berkata; -Dan aku tidak mengetahui ini keculai dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – beliau bersabda: “Mata bisa berbuat zina, dan hati juga bisa berbuat zina, zinanya mata adalah dengan melihat sedang zinanya hati adalah dengan berangan-angan, maka kemaluan adalah sebagai pembenarnya atau yang mendustakannya.” [HR. Imam Ahmad: 8006]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُمَارَةَ الْحَنَفِيِّ عَنْ غُنَيْمِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِي مُوسَى
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً
وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id Al Qattan] dari [Tsabit bin ‘Umarah Al Hanafi] dari [Ghunaim bin Qais] dari [Abu Musa] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap mata memiliki bagian dari zina, dan wanita yang memakai wewangian kemudian lewat di perkumpulan (lelaki) berarti dia begini dan begini.” Maksud beliau berbuat zina. Dan dalam bab ini ada juga hadits dari Abu Hurairah, Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. [HR. Tirmidzi: 2710]

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ فِيمَنْ زَنَى وَلَمْ يُحْصَنْ جَلْدَ مِائَةٍ وَتَغْرِيبَ عَامٍ
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ غَرَّبَ ثُمَّ لَمْ تَزَلْ تِلْكَ السُّنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami [Malik bin Isma’il] telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘Aziz] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Syihab] dari [‘Ubaidullah bin “Abdillah bin ‘Utbah] dari [Zaid bin Khalid Al Juhani] mengatakan; ‘Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh menghukum orang yang berzina dan dia belum menikah dengan dera seratus kali dan diasingkan selama setahun.’ Kata [Ibnu Syihab], dan telah mengabarkan kepadaku ‘ [‘Urwah bin Zubair] bahwa [Umar bin Khattab] pernah mengasingkan (pelaku zina), dan yang demikian menjadi sunnah. [HR. Shahih Bukhari: 6329]

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Telah bercerita kepada kami [‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah] berkata telah bercerita kepadaku [Sulaiman bin Bilal] dari [Tsaur bin Zaid Al Madaniy] dari [Abu ‘Al Ghoits] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina“. [HR. Shahih Bukhari: 2560]

أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ أَخْبَرَنَا أَنَسٌ قَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمُوهُ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Telah memberitakan kepada kami [Dawud bin Syabib] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qatadah] Telah mengabarkan kepada kami [Anas] mengatakan; Saya ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang tak seorangpun sesudahku menceritakan kepada kalian, aku mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Hari kiamat tidak terjadi -atau ia mengatakan dengan redaksi; diantara tanda kiamat adalah- sehingga ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamer ditenggak, zina mewabah, (jumlah) laki-laki menyusut dan (jumlah) wanita melimpah ruah, hingga jika ada lima puluh wanita itu berbanding dengan seorang laki-laki.” [HR. Shahih Bukhari: 6310]

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَرَ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِنْ قَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ ح حَدَّثَنِي مَحْمُودٌ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Ibnu Thawus] dari [Ayahnya] dari [Ibnu Abbas] radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Saya tidak berpendapat dengan sesuatu yang menyerupai makna lamam (dosa kecil) selain perkataan [Abu Hurairah]. Dan di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku [Mahmud] telah mengabarkan kepada kami [Abdurrazaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma’mar] dari [Ibnu Thawus] dari [Ayahnya] dari [Ibnu Abbas] dia berkata; “Saya tidak berpendapat tentang sesuatu yang paling dekat dengan makna Al lamam (dosa-dosa kecil) selain dari apa yang telah dikatakan oleh [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka zinanya mata adalah melihat sedangkan zinanya lisan adalah ucapan, zinanya nafsu keinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah sebagai pembenar semuanya atau tidak.” [HR. Shahih Bukhari: 5774]

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ يُصَلَّى عَلَى كُلِّ مَوْلُودٍ مُتَوَفًّى وَإِنْ كَانَ لِغَيَّةٍ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ يَدَّعِي أَبَوَاهُ الْإِسْلَامَ أَوْ أَبُوهُ خَاصَّةً وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَلَى غَيْرِ الْإِسْلَامِ إِذَا اسْتَهَلَّ صَارِخًا صُلِّيَ عَلَيْهِ وَلَا يُصَلَّى عَلَى مَنْ لَا يَسْتَهِلُّ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ سِقْطٌ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
كَانَ يُحَدِّثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
{ فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا }
الْآيَةَ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] berkata, [Ibnu Syihab]: “Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orangnya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila ketika dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”). [HR. Shahih Bukhari: 1270]

———

Referensi:

1. Jamaluddin, Amin Muhammad. Umur Umat Islam, Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal. Hal 184. Cetakan keenam belas. Penerbit Cendikia Centra Muslim – Jakarta Selatan. Desember 2007.

2. Al-Adnani, Abu Fatiah. Fitnah dan Petaka Akhir Zaman. Hal. 90-91. Penerbit Granada Mediatama – Solo. Cetakan I Januari 2007 Edisi Revisi.

3. http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-meninggalkan-shalat-shahih-atau-dhaif.htm

4. Quran Auto Reciter Software Version 2.7. SearchTruth.com

5. Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Cetakan kesembilan, Penerbit GIP, Jakarta, Juni 2006

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s