Khasiat Pegaga Bagian II


Ciri fisik tanaman ini, tumbuh merayap menutupi tanah, tidak berbatang, tinggi tanaman antara 10 – 15 cm, memiliki daun satu helaian yang tersusun dalam roset akar dan terdiri dari 2 – 10 daun. Umumnya daun berwarna hijau, berbentuk seperti kipas, buah pinggang atau ginjal, permukaan dan punggungnya licin, bagian tepinya agak melengkung ke atas, bergerigi dan kadang-kadang berambut, tulangnya berpusat di pangkal dan tersebar ke ujung, berdiameter 2 – 7 cm.

Tangkai daun berbentuk seperti pelepah, agak panjang berukuran 5 – 15 cm. Sepanjang tangkai daun beralur dan di pangkalnya terdapat daun sisik yang sangat pendek, licin, tidak berbulu dan berpadu dengan pangkal tangkai daun.

Pegagan memiliki tangkai bunga yang sangat pendek, keluar dari ketia daun, tersusun dalam karangan seperti paying, berwarna putih atau merah muda, agak kemerah-merahan, berbentuk bundar, lonjong, cekung dan runcing ke ujung dengan ukuran sangat kecil. Kelopak bunga tidak bercuping, bertajuk bunga berbentuk bulat telur dan meruncing ke ujung.

Buah Pegagan berukuran kecil, panjang antara 2 – 2,5 mm, lebar ± 7 cm, berbentuk lonjong atau pipih, menggantung, baunya wangi, pahit rasanya, berdinding agak tebal, berkulit keras berbentuk dua, berusuk jelas, dan berwarna kuning.

Akar Pegagan berbentuk rimpang dengan banyak stolon (akar berbentuk rumpun), berkelompok dan lama-kelamaan meluas hingga menutupi tanah, merayap dan berbuku-buku. Akar ke luar dari buku-buku tersebut dan tumbuh menjurus ke bawah atau ke dalam tanah.

———
Pegagan Sebagai Obat

Bagian pegagan yang digunakan untuk obat adalah seluruh bagian tanaman, kecuali akar. Sebagai obat tradisional, penggunaan pegagan harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Ada baiknya sebelum mengonsumsi obat dari pegagan, terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya. Saat ini, penggunaan resep obat tradisional, mulai direkomendasikan oleh para dokter di rumah sakit – rumah sakit tertentu atau klinik – klinik herbal. Kebutuhan setiap pasien berbeda, tergantung dari kondisi penyakit dan kesehatannya. Dalam hal ini pegagan dikonsumsi tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi juga untuk menjaga kesehatan tubuh agar tetap prima, baik anak – anak, remaja, maupun manusia usia lanjut (manula).

Pemakaian obat dari pegagan secara oral tidak dianjurkan bagi pasien yang menderita tekanan darah rendah, ibu – ibu yang sedang hamil, dan anak – anak di bawah dua tahun. Namun, para ahli obat tradisional dapat menggunakan beberapa simplisia lain untuk mengantisipasi agar tekan darah tetap normal, misalnya dengan menambahkan jahe untuk menormalkan tekanan darah.

Efek pemakaian secara oral relative lebih cepat. Dengan dosis yang tepat, pengobatan selama 2 – 3 hari, efek ini sudah terlihat. Dosis yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan berupa penurunan tekanan dara secara berlebihan. Karenanya, sebelum mengkonsumsi pegagan, dianjurkan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.

Sebagai obat luar, seperti perawatan kulit wajah dan seluruh tubuh, atau pengobatan terhadap luka, bisul dan memar, pegagan dapat dikonsumsi oleh siapa saja. Sudah terdapat beberapa produk perusahaan farmasi berbahan bauk pegagan yang berfungsi untuk mengobati luka parut dan keloid. Produk – produk itu dipasarkan dengan berbagai merek.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Annals of Plastic surgery, dikemukakan bahwa luka akibat melahirkan (episiotomi) dan luka – luka lain dapat disembuhkan dengan pegagan. Dijelaskan bahwa pegagan mengandung zat yang dapat melancarkan sistem peredaran darah dan memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak akibat perlukaan. Fakta tersebut diperkuat lagi dengan adanya jurnal kedokteran di Prancis (1996) yang melaporkan bahwa perempuan yang habis melahirkan (pasca bersalin) yang diterapi dengan ekstrak pegagan dapat sembuh lebih cepat dibandingkan dengan yang hanya mendapat perawatan standar. Pasien yang mengalami pembengkakan kaki akibat penyempitan pembuluh darah juga dapat disembuhkan dengan pegagan. Pemakaian obat dari pegagan secara oral tidak dianjukan bagi pasien yang menderita tekanan darah rendah, ibu – ibu yang sedang hamil, dan anak – anak berusia di bawah 2 tahun.

-bersambung-

Referensi:
Majalah Kitab Perubahan Jawi /No.1/Vol I/Juni-Juli 2003

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s