Perbedaan Pendapat tentang Makruh tidaknya Khitan pada Hari Ketujuh Sejak Kelahiran Bayi (Halaman 261)


Saya salin dari buku terjemahan yang diberi judul Fiqih Bayi karya Ibnul Qoyyim. Judul aslinya adalah Tuhfatul-Maudud bi Ahkamil-Maulud



Para Ulama memperselisihkan tentang makruh tidaknya khitan pada hari ketujuh sejak kelahiran bayi, yaitu dua pendapat, yang kedua-duanya sama-sama riwayat dari Imam Ahmad.

Imam Khallal berkata dalam bab Menerangkan Khitan Bayi, ‘Abdul-Malik bin ‘Abdul-Hamid telah mengabarkan kepadaku, dia pernah berdiskusi dengan Abu ‘Abdillah tentang khitan bayi, “Pada umur berapakah sepatutnya dia dikhitan?” Dia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak mendengar apa-apa tentang itu.”

Aku katakan, kata ‘Abdul-Malik melanjutkan riwayatnya, “Sesungguhnya Khitan itu terasa berat pada anak usia 10 tahun. Itu akan terasa sulit baginya.” Saya ceritakan kepadanya tentang anakku, Muhammad, dia berusia 5 tahun. Saya ingin mengkhitannya dan saya lihat agaknya dia mau. Saya lihat dia tidak dikhitan pada usia 10 tahun karena akan terasa keras dan susah.”

Mendengar itu, Abu ‘Abdillah berkata kepadaku, “Saya kira anak kecil tidak akan susah dikhitan.”

“Selain dari itu, “ lanjut ‘Abdul-Malik, “saya pun tidak melihat Abu ‘Abdillah menganggap khita itu makruh untuk anak kecil usia sebulan atau setahun. Dia tidak berkata apa-apa kepadaku mengenai itu. Saya hanya melihat dia merasa heran jika dikatakan khitan menyakiti anak kecil.”

Adapun riwayat Imam Ahmad dengan riwayat tadi, kata ‘Abdul-Malik, “Saya mendengar Abu ‘Abdillah mengatakan Hasan tidak menyukai anak kecil dikhitan pada hari ketujuh (dari kelahiran) –nya.”

Dia katakan pula, Muhammad bin ‘Ali as-Simsar mengabarkan kepada kami, dia berkata, Muhanna telah menceritakan kepada kami, dia berkata bahwa dirinya pernah bertanya kepda Abu ‘Abdillah tentang seorang laiki-laki yang mengkhitan anaknya pada hari ketujuh (sejak kelahiran) –nya. Ternyata Abu ‘Abdillah tidak menyukai itu dan berkata, “Itu adalah perbuatan kaum Yahudi.”

Kata Imam Ahmad bin Hanbal pula kepadaku, “Imam Hasan pun tidak menyukai orang yang mengkhitan anaknya pada hari ketujuh (sejak kelahiran)-nya.”
Saya bertanya, “Siapa yang menyebutkan hal itu dari Imam Hasan?”
Dia jawab, “Beberapa orang Basrah.”

Kata Imam Ahmad pula kepadaku, telah sampai berita kepadaku bahwa Sufyan Tsauri bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah, “Umur berapakah sepatutnya anak dikhitan?”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Andaikan aku dapat mengatakan kepada anak itu, Ibnu ‘Umar mengkhitan anak-anaknya saat usia berapa?”

Kata Imam Abdul-Malik, Imam Ahmad berkata kepadaku (menanggapi dialog itu), “Tidak ada orang yang lebih pandai daripada Sufyan bin ‘Uyainah,” Maksudnya ketika dia berkata, “Ibnu ‘Umar mengkhitan anak-anaknya saat berusia berapa?”

Kata Abdul-Malik pula, ‘Ishmah bin ‘Isham telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, Imam Hanbal telah menceritakan kepada kami bahwa Abu ‘Abdillah berkata, “Jika anak dikhitan pada hari ketujuh, itu tidak apa-apa. Adapun jika Imam Hasan tidak menyukainya, itu tak lain supaya tidak sama dengan kaum Yahudi. Padahal, tidak ada alasan apa pun dalam hal itu. “

Dia katakan pula: Muhammad bin Ali telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, “Shalih telah menceritakan kepadaku, bahwa dia pernah bertanya kepada ayahnya, “Bolehkan bayi dikhitan pada hari ketujuh?” Maka, ia menjawab, “Diriwayatkan dari Hasan, bahwa dia berkata, itu perbuatan kaum Yahudi.”

Dia katakan pula, hal itu pernah pula ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih. Dia menjawab, “Hal itu dianjurkan pada hari ketujuh tidak lain karena akan ringan dirasakan si anak. Bayi itu dilahirkan dalam keadaan sekujur tubuhnya kedap rasa. Dia belum merasakan sakit, apa pun yang menimpanya, selama tujuh hari. Jika dia tidak dikhitan pada saat itu, biarkan dia sampai menjadi kuat.”

Adapun kata Ibnul-Mundzir dalam keterangannya tentang waktu khitan, “Para ulama berselisih tentang waktu khitan. Sekelompok Ulama tidak sudak anak dikhitan pada hari ketujuh. Mereka yang tidak suka itu adalah Imam Hasan Bashri dan Imam Malik bin ‘Anas hanya agar berbeda dengan kaum Yahudi. Adapun Sufyan Tasuri mengatakan hal itu berbahaya. Imam Malik mengatakan, “Paling benar adalah agar berbeda dengan kaum Yahudi.”

“Namun kebanyakan, “lanjut Ibnul-Mundzir, “Kami dapati khitan di negeri kami dilakukan saat anak telah tumbuh giginya.”

Dalam hal itu, Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya tidak pernah mendengar apa pun tentang itu.”

Beda lagi menurut Laits bin Sa’ad, khitan bagi anak laki-laki adalah pada umur antara tujuh hingga sepuluh tahun. Dalam hal itu, dia katakan, “Diceritakan dari Makhul atau lainnya bahwa Ibrahim Kahil ar-Rahman menghitan puteranya, Ishaq, pada hari ketujuh dan mengkhitan putera satunya lagi, Ismail, pada usia 13 tahun.”

Sementara itu, riwayat dari Abu Ja’far, Fathimah mengkhitan puteranya pada hari ketujuh. [lihat At-Tamhid karya Imam Ibnu Abdil-Bar 21/60].

Balik lagi kepada Ibnul-Mundzir, dia berkata, “Dalam bab ini, sebenarnya tidak ada larangan yang tsabit (otentik) dan tentang waktu pelaksanaan khitan pun tidak ada khabar yang dapat dijadikan rujukan atau sunnah yang diamalkan. Oleh karena itu, semua sebenarnya mubah dan tidak boleh melarang manapun kecuali ada hujjah. Kami sendiri tidak tahu hujjah orang yang melarang anak kecil dikhitan pada hari ketujuh.”

Dalam sunan Imam Baihaqi, ada hadist dari Zuhair bin Muhammad, dari Muhammad al-Munkadir, dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah Salalllahu ‘alaihi wasallam meng-‘aqiqah-i Hasan dan Husain serta mengkhitan mereka pada hari ketujuh.” [Al-Iyal karya Imam Abid-Dunya 2/783528, Sunan Imam Baihaqi 8/324, hadits dha’if al-isnad].

Di sana ada pula hadist dari Musa bin ‘Ali bin Rabah, dari ayahnya bahwa Ibrahim mengkhitan Ishaq saat ia usia tujuh hari. [Sunan Iamam Baihaqi 8/324]

Begitu pula kata guru kami (Ibnu Taiyyimah), “Ibrahim mengkhitan Ishaq pada hari ketujuh dan mengkhitan Ismail ketika telah baligh. Khitan Ishaq itu kemudian menjadi tradisi bagi anak cucunya dan khitan Isamil pun menjadi tradisi anak cucunya.” Wallahua’lam.

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s