“Don’t worry Reza, this CD is HALAL …. hahahaha….”


Penggalan kalimat itu diucapkan koordinator training Sales Enablementship salah satu vendor Telekomunikasi untuk produk Microwave Backbone SDH, ketika pembagian CD Dokumen dan foto di hari terakhir training tersebut.

Kalimat tersebut disambut dengan tertawanya seluruh peserta training yang datang dari berbagai negara, yaitu dari Maroko, Aljazair, Sudan, Iran, Pakistan,  Indonesia, dan Vietnam.

Latar belakang kenapa sampai mendapatkan candaan seperti itu adalah karena begitu ketatnya saya untuk memakan makanan yang halal selama masa training  di negara yang terletak di Eropa tersebut.

Saya khawatir makanan haram masuk ke dalam tubuh saya, sehingga menjadi darah dan daging. Merinding kalau memikirkannya. Makan haram akan mempengaruhi ibadah dan akhlak saya selama di dunia ini.

Oleh karena itu, ketika saya dapat tugas untuk berangkat ke sebuah kota kecil, Backnang,  yang terletak di sebelah utara dengan Stuttgart ini, maka saya mempersiapkan diri agar memakan makanan yang halal.

Suasana Kota Backnang dari Ruang Training

Suasana Kota Backnang dari Ruang Training

Dari Indonesia, saya membawa rice cooker, pinjaman punya shohib, di dalam koper saya. Istri saya juga sudah memasukkan beras yang sudah ditakar ke dalam plastik-plastik transparan, sehingga saya tinggal memasaknya saja. Saya juga membawa saos sambel sachet-an dan abon sapi. Tak lupa saya juga meminjam pemanas air punya shohib saya.

Sesampai di Stuttgart alhamdulillah saya bersilaturahim dengan saudara muslim asal Indonesia yang sudah lama di Jerman dari kuliah S1 sampe S3, dan sekarang sedang bekerja di Jerman. Saya diajak main ke rumahnya, untuk sholat berjama’ah dan jamak. Kemudian saya diajak makan di rumah makan Turki yang insya Allah Halal😀 , dan kemudian jalan-jalan di pusat kota Stuttgart melihat-lihat sekitar.

Setelah sore, saya pun pamit, dan dibekali beberapa makanan halal. Dan saya melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Backnang yang terletak di sebelah utara Stuttgart.

Sesampai di Backnang saya naik taksi yang disupiri ibu-ibu yang lagi asik baca novel menuju hotel tempat saya menginap. Sesampai di hotel saya langsung menanyakan tentang breakfast. Ternyata breakfast bisa dipisah dari biaya penginapan di hotel tersebut. Akhirnya saya minta dengan petugas tersebut agar breakfast tidak include ke dalam biaya kamar. Sehingga saya bisa mendapatkan full meal allowance dari kantor🙂

Sarapan pagi saya memasak nasi dan makan pake abon dan sambal sachet. Di lift saya ketemu dengan kolega dari Pakistan. Dia bilang ke saya kenapa tidak sarapan di hotel. Semuanya halal. Saya senyum-senyum saja menanggapinya.

Ketika hari pertama training, kami diberikan koin plastik sebagai pembayaran untuk makan siang di kantin kantor. Saya request apakah saya bisa mendapatkan makanan ikan atau telur yang dimasakan dengan peralatan masak yang tidak dipakai untuk memasak babi dan dihidangkan di perlengkapan makan yang juga tidak dipakai untuk menghidangkan babi. Saya juga request makanan yang tidak dimasak dengan minuman yang mengandung alkohol. Trainer saya mengatakan bahwa sulit untuk memenuhi request tersebut. Akhirnya koin tersebut saya kembalikan.

Alhamdulillah hotel tempat kami tinggal berdekatan dengan kantor untuk training. oleh karena itu makan siang saya lakukan di kamar hotel. masak nasi lagi dan makan dengan abon dan sambal sachet abc.

 

Suasana kamar hotel bintang 3 di Backnang

Suasana kamar hotel bintang 3 di Backnang

 

Malam harinya saya bersama teman muslim dari Pakistan dan Aljazair yang selama seminggu kami selalu bertiga jalan keliling kota, ngobrol dan makan malam. Kami mendapatkan restoran kebab Turki. Yang akhirnya selama seminggu restoran kebab Turki yang kata petugasnya Halal ini menjadi menu kami bertiga setiap malam selama seminggu.

Saya pun beli telur mentah di minimarket. Sehingga hari-hari berikutnya saya mendapatkan tambahan menu telur rebus, disamping abon dan sambel abc untuk sarapan dan makan siang.  Setiap pagi saya masak nasi dan rebus telur untuk sarapan dan makan siang. Rebus telur dengan memakai pemanas air.

Dan teman saya dari Pakistan menjadikan joke, “This is halal eggs Reza…”

Diantara rutinitas masalah perut, yang menarik sehari menjelang training berakhir, kami diundang dinner di sebuah kota kecil dekat Backnang. Kota yang punya sejarah terkenal akan tambang garam.

Seperti biasa saya request makanan halal dan perlengkapan dan masak yang halal. Dan mereka tidak bisa memenuhi. Akhirnya kami peserta training yang dibagi menjadi dua mobil. Mobil yang ada saya pun mampir dulu ke restoran kebab Turki. Dan saya beli Kebab Turki yang saya masukkan ke dalam Tupperware.

Ketika kami melihat perangkat yang terpasang di sebuah tower. Kami mulai city tour berjalan kaki. foto-foto dan akhirnya sampai ke rumah makan tempat kami dinner.

Saya dengan santainya dan tersenyum membuka tupperware saya yang berisi daging kebab yummi serta rotinya yang digulung terbungkus. Pada saat itu peserta training mayoritas muslim dari Indonesia, Pakistan, Aljazair, Maroko, Sudan dan Iran. Satu orang dari Vietnam yang bukan Muslim.

Teman-teman kami yang muslim ini dijanjikan ada makanan ikan. Ternyata sampai disana tidak ada ikan. Yang ada hanya daging. Akhirnya peserta dari Pakistan, Aljazair, Maroko ini memilih makan steak dari sayuran yang mereka kurang menyukai rasanya. Dan peserta yang dari Iran dengan cueknya makan steak daging. Hal ini menjadi perbincangan peserta training lain dari Maroko dan Pakistan yang menanyakan kenapa yang dari Iran itu makan Daging yang tidak jelas disembelihnya apakah dengan menyebut nama Allah.

Dan pada akhirnya teman-teman dari Pakistan, Aljazair, dan Maroko ini pun memuji saya, “Reza is eating the most delicious meal tonight.”

Alhasil esok harinya ketika penutupan dengan resmi acara training dan pembagian CD dokumen training. Serta merata koordinator training ketika memberikan CD tersebut ke saya, “Don’t worry Reza, this CD is halal… hahahah” seluruh ruangan terawa…..😀

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

4 Balasan ke “Don’t worry Reza, this CD is HALAL …. hahahaha….”

  1. yando berkata:

    Seru ceritanya bang Reza. Btw, jawaban peserta dari Iran mengenai keputusannya tetap memakan steak daging itu bagaimana?

  2. afit berkata:

    Subhanallah..
    Makan halal,ini salah satu contoh dari ortu ane juga Za
    Sangat menjaga makanan yang hendak dimakan

    Thanks for sharing indeed

    • rezakahar berkata:

      Iya Fit, subhanallah, serem makanan haram jika masuk ke tubuh kita jadi darah dan daging. Menghalangi ibadah dan doa.

      Sama-sama Fit, semoga kita tetap istiqomah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s