Three Musketeers Unila


Ini julukan yang sematkan kepada kami bertiga yaitu Reza, Yaya dan Saut oleh kawan-kawan kami di kelas 1.1, 2.1, dan 3IPA1 SMUN2 Bandar Lampung 1996-1999. Alasannya kami kemana-mana selalu bertiga, kami semua tinggal di komplek dosen UNILA, karena kami bertiga anak dosen, kami sekelas sejak kelas 1 SMU sampe kelas 3 SMU. Kami selalu berangkat sekolah bareng, naik angkot 3 kali. Angkot Rajabasa – Terminal Pasar Bawah atau Pasar Tengah, terus naik lagi angkot ungu ke arah Teluk Betung, turun di Gotong Royong, naik lagi angkot ungu arah balik.

Masalah timbul karena kami saling menunggu, maka kami sering sekali terlambat. Alasan utama biasanya sakit perut sehingga harus bab ke toilet. Lucunya hampir tiap hari ada saja yang bikin terlambat dengan urusan yang satu ini.

Kami terkenal dengan dua sebutan, siswa teladan dan telatan, karena kami mendapat rangking yang baik di kelas unggulan, terutama teman kami Yaya yang selalu rangkin 1 kecuali satu kali di akhir kelas dua, karena poisi rangking satu diberikan kepada saya, dan kami juga sering terlambat masuk sekolah karena alasan di atas.

Yaya, si juara satu, selalu rangking satu kecuali sekali saja, untuk laki-laki. Sedangkan perempuan sering mendapatkan rangking satu adalah Meyli. Teman kami Yaya ini kemampuannya merata di semua pelajaran. Dari IPA, IPS, bahkan seni pun jago. Sehingga wajar kalau Yaya sering mendapatkan rangking 1.

Uniknya di kelas kami adalah ada seseorang yang jago banget di sebuah bidang. Misalnya Andhi dari Gunung Madu ini jago sekali matematika. Setiap ke Gramedia, dia  sering baca buku teka-teki matematika, sehingga pernah guru matematika ngasih soal rumit, bisa dijawab oleh Andhi. Setahu saya Andhi juga yang memegang nilai test IQ tertinggi di SMU kami.

Untuk pelajaran fisika, kami mempunyai teman dari Penengahan, Lampung Selatan. Jago sekali fisikanya sehingga mewakili provinsi kami untuk bersaing di kancah nasional pada Tim Olimpiade Fisika Indonesa (TOFI). Kami memanggilnya dengan nama panggilan Igho.

Sedangkan anak emas pelajaran Biologi, seingat saya adalah Indra. Karena nilainya sering mendapatkan yang paling tinggi. Pelajaran biologi waktu itu termasuk pelarajan yang paling elit, dan mendapatkan nilai tinggi di pelajaran ini menjadi suatu kebanggaan.

Sedangkan NEM tertinggi di sekolah kami dipegang oleh salah satu Three Musketeers Unila yaitu Saut. Saut ini jago di IPA dan juga bahasa Inggris. Sehingga NEM tertinggi dipegang oleh dirinya.

Sedangkan saya sendiri, kurang jago dalam bahasa Inggris. Tapi ketika seleksi Siswa Teladan di sekolah kami, hanya pelajaran IPA saja yang diujikan. Khusus untuk IPA, saya termasuk memiliki kemampuan yang tinggi di Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, walaupun bukan yang tertinggi. Ternyata kalau hanya pelajaran IPA saja, nilai saya yang paling tinggi. Sehingga terpilihlah saya untuk mewakil sekolah saya bersaing sebagai siswa teladan untuk jenis kelamin laki-laki.

Kembali ke masalah telatan. Benar-benar sulit bagi kami untuk tepat waktu karena kebiasaan kami yang saling menunggu. Biasanya yang paling risau adalah si penunggu. Kalau sudah mepet waktunya, kami naik mobil angkot yang paling ngebut, biasanya ditandai dengan angkot yang memasang musik keras-keras, dan menyupir dengan ugal-ugalan. Jika pulang ke rumah, biasanya kami memakai angkot yang santai, yang disupiri oleh orang yang sudah berumur.

Kadang karena tidak suka angkot ngetem, kami naik kendaraan umum yang berhenti di pertigaan Polres Bandar Lampung, dan kami lari dari pertigaan sekitar 1 km, olah raga pagi, menuju gerbang sekolah kami.

Kadang kalau lagi mau terlambat sebelum angkot ngebut menghampiri kami, kami selalu berharap pertolongan Allah datang, dengan lewatnya mobil teman kami yang diantar oleh ayahnya yaitu Edo. Edo satu sekolah dengan kami, jika di luar acara kelas, kami sering juga jalan bersama, curhat bersama berempat bareng Edo. Edo yang merupakan Lampung asli ini pernah tinggal di Amerika selama 7 tahun ikuta ayahnya yang sekolah S2 dan S3 Ekonomi di sana. Sehingga Edo fasih berbahasa Inggris. Saya pernah dilihatkan lukisan harimau yang dia buat waktu sekolah dasar di Amerika, hasilnya bagus sekali, dan lukisan itu mendapatkan award. Dia cerita kalau di sana dia disangka orang Jepang, karena pintar sekali.

Jika mobil Edo tiba, kami sangat senang sekali, karena hampir bisa dipastikan kami tidak terlambat, daripada naik turun angkot sampe 3 kali. Atau lari dari pertigaan Polres ke gerbang sekolah kami.

Pernah ada kejadian unik, ketika kami turun di pasar tengah, kami lihat jam sudah mendekati waktu masuk, dan bisa dipsatikan kami bakalan terlambat ke sekolah. Tiba-tiba teman kami si rangking satu ini yaitu Yaya berucap doa harap jika ada yang mau menolong kami memberikan tebengan. Tiba-tiba sebuah mobil besar berhenti di seberang jalan, dan kami dipanggil. Subhanallah rupanya itu mobil wakil kepala sekolah kami yang anaknya teman sekelas kami. Alhamdulillah hari itu kami tidak jadi terlambat.

Pernah ketika kelas satu SMU, kami terlambat dan masuk melalui jalan SMPN 25 langsung masuk kelas. Ketika itu yang mengajar guru bahasa Inggris yang menjadi wali kelas kami. Ketika kami masuk, kami ditanya apakah sudah laporan terlambat. Kami jawab belum. Kemudian ibu wali kelas kami meminta kami laporan, dan rupanya banyak yang sudah dibaris siap diberi sangsi lari keliling lapangan. Dan kami pun terkena lari keliling lapangan.

Ketika kelas dua SMU, kami mempunyai guru Kimia yang disiplin. Aturannya adalah jika terlambat harus lapor ke BP,  dan harus diberi tugas oleh BP sebelum masuk sekolah.  Biasanya kami diberi tugas menyapu, mengelap kaca sebentar. Kami perhatikan ketika kami kelas dua tesrebut, ruang BP sangat bersih sekali dan kaca nya pun mengkilat tidak berdebu. Beberapa tahun kemudian ketika saya datang nostalgia ke sekeloah, saya lihat kaca ruang BP berdebu, berarti sudah tidak ada lagi siswa terlambat.

Walaupun kami selalu bertiga, rombongan dari komplek Dosen UNILA. Uniknya di dalam kelas kami hampir tidak pernah duduk bareng. Kecuali waktu pertama kali masuk sekolah. Saya yang berasal dari SMPN12, sedangkan Yaya dan Saut dari SMP Xaverius. Maka saya ketika itu mendapatkan rezeki duduk di samping Agus yang fenomenal. Agus yang jago main bola dan menggambar ini juga satu asal SMP dengan saya, bedanya Agus dari kelas unggulan 3A, sedangkan saya dari kelas 3B. Agus dikenal sebagai Ketua Adat di kelas kami. Kami duduk sebangku selama 3 tahun. Sedangkan Yaya dan Saut sempat duduk bareng satu meja. Kemudian selanjutnya Yaya duduk satu meja dengan Dani yang datang dari SMP Persit. Sedangkan satu duduk satu meja sesama Batak yaitu dengan Pieter.

Mungkin yang membuat kami seperti ini adalah karena kami bertiga lebih cenderung bersifat plegmatis damai (merujuk ke buku personality plus). Seperti pernah ada kejadian pulang sekolah. Teman-teman sekolah ingin pergi ke suatu tempat. Saat itu teman kami Arinto yang dijuluki oleh kami dengan sebutan Spartan (setelah mengikuti pelajaran sejarah tentang Yunani tentang Spartan dan Troya) bertanya ke kami yang saat itu bertiga di dekat Arinto. Arinto bertanya ke Yaya apakah kami mau ikut atau tidak. Yaya bilang terserah Reza. Reza bilang terserah Saut. Kemudian Saut bilang terserah Yaya. Akhirnya keluarlah korelis spartan si Arinto yang kesal dengan kami bertiga, “Ya udah, kalian semua ikut.” Ternyata kami bertiga ikutan… hehehehe… sungguh-sungguh aneh.

Kami sering memanfaatkan waktu di angkot selain ngobrol juga untuk belajar, seperti menghafalkan table unsur kimia, membaca.

Di luar aktifitas sekolah, biasanya kami berempat dengan tambahan Edo. Kalau kumpul lebih sering di rumah Yaya, untuk curhat, ngobrol ketawa-ketawa, dan juga belajar. Kadang kami pergi ke luar naik mobil Edo sekedar untuk makan mie ayam, atau melihat pantai teluk betung dari tebing yang sekarang sudah dibangun restoran Digger. Cukup banyak mie ayam yang kami datangi mulai dari mas yon, mie ayam kawi, sampe mie ayam kampun sawah.

Ketika kelas 3, kami ditawarkan oleh sekolah untuk melamar PMDK di UI dan UGM. Saya dan Saut tidak mau mengambil kesempatan ini, karena kami hanya ingin kuliah di ITB. Yaya mengambil kesempatan ini dan mendaftar PMDK ke UI.

Ketika intensif UMPTN, kami berempat berangkat ke Bandung. Yaya sharing kamar dengan Saut, dan Reza sharing kamar dengan Edo. Kami ngekos di jalan Kenari di seberang Hotel Hyatt Bandung dekat BIP. Kosan yang gelap, apek, matahari tidak bisa masuk, nasi berkutu, jemur pakaian rebutan yang paling dekat dengan lampu pijar, makanan dalam lemari diserbu tikus, ranjang yang gampang patah dan harga kosnya mahal. Ketika pertengahan intensif, UI mengadakan pengumuman yang lulus PMDK. Ternyata Yaya dan Rudi mendapatkannya. Rudi lari pagi dari Dago Atas ke kosan kami memberi kabar PMDK. Akhirnya teman kami Yaya pulang duluan ke Lampung untuk mengurus PMDK, sedangkan kami meneruskan sisa waktu intensif.

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

4 Balasan ke Three Musketeers Unila

  1. agus tri berkata:

    wkwkwk gak bakal lupa kalo gelar yg 1 itu: siswa telatan😀 the kings of science in class.
    hal yang menyenangkan untuk dikenang..

    • rezakahar berkata:

      Hehe Agus, teman sebangku selama 3 tahun, dari kelas satu sampe kelas tiga SMU. Kita dijuluki pasangan ireng karena sama-sama hitam, difoto untuk hadiah ke Bu Rita, fotonya item banget kita ya Gus hehehe. Perlu dimasukkan Agus nih ke dalam cerita sebagai ketua Adat hehe

  2. dhani tulang 3 berkata:

    hehe seneng ya bisa flashback jaman msh unyu2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s