Bulan Romadhon, Momentum Perubahan Diri, Kenangan SMU, Masjid, dan Buku Fiqih Sunnah


Di dalam Masjid SMUN2 Bandar Lampung. Sumber foto: Iwan Sofian

Di dalam Masjid SMUN2 Bandar Lampung. Sumber foto: Iwan Sofian

Ketika itu kelas 3 SMU. Bulan Romadhon tiba. Sebagaimana anak-anak kelas 3 SMU, yang sudah tingkat akhir, kekhawatiran akan masa depan, memasuki dunia kuliah, membuat sebagian siswa terutama yang aktif di Rohis sering ke Masjid untuk Sholat Dhuha ketika istirahat dan juga Sholat Dhuhur berjama’ah.

Ketika bulan Romadhon itu, setelah sholat sunnah Dhuha, iseng-iseng lihat perpustakaan masjid sekolah. Ada deretan seri buku Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq yang berwarna hijau beberapa jilid. Allah menggerakkan tangan ini untuk mengambil salah satu dari seri buku tersebut. Entah apa karena iseng saja, pokoknya ingin mengambil, saya pilih yang paling tebal yaitu jilid dua.

Saya buka acak, ternyata tentang sujud  Sahwi. Saya iseng baca, isinya cerita bagaima Rasululalh saw perna lupa raka’at sholat, ketika selesai sholat para sahabat r.a. bertanya, dan Rasulullah saw bilang kenapa tidak diingatkan, kemudian ditambah rokaatnya dan diakhiri dengan sujud sahwi.

Hal ini membuat diri saya takjub, bahwa saya tidak pernah tahu adanya sujud sahwi ini ketika kita lupa rukun sholat. Biasanya saya kalau lupa, ya mengulang lagi sholatnya.  Dan saya takjub dengan hadist mengenai Rasulullah saw pun bisa lupa ketika sholat.

Kemudian karena kekagetan saya ini, saya merasa ternyata saya masih bodoh sekali dengan agama saya. Selama ini saya merasa cukup dengan Mengaji tiap maghrib dan sholabt 5 waktu kadang ke masjid. Walaupun saya sejak kelas 1 SMU sudah ikutan Rohis dan ikutan mentoring mingguan, tetap saja saya masih kaget, karena ilmu saya tentang Islam, dan tentang sholat, ternyata masih sedikit sekali.

Saya merasa tertantang dan penasaran dengan isi buku ini tentang sholat yang tebal. Karena saya sejak kecil sering diajak ayah saya ke masjid, dan saya rajin sholat, sampai dikatai tempan saya “sok alim”. Saya teringat bagaimana kakak-kakak penghuni masjid Al Wasi’i mengajari saya membalas ejekan sok alim tersebut dengan cara bilang saja, sok nya untuk kamu, alimnya untuk saya.

Saya penasaran sekali beratahun-tahun saya sholat kok masalah ini saya tidak tahu, jangan-jangan masih banyak lagi ilmu yang tidak saya ketahui. Ketika saya lagi merenung, memegang buku tebal itu. Ada teman saya yang melihat dan menasihati saya, “kata paman saya, hati-hati belajar fiqih, kalau belum siap nanti bisa gila.”

Saya termenung, dan tetap penasaran, akhirnya hari-hari berikutnya saya baca buku itu untuk menghilangkan penasaran saya. Di buku itu saya menemukan hadist-hadist lain yang membuat takjub yaitu hadist yang menjanjikan bagi orang-orang  melakukan sholat berjama’ah di awal waktu tidak ketinggalan takbir pertama dengan imam, 5 waktu, selama 40 hari berturut-turut maka diharamkan baginya api neraka. Karena saya takjub saya amalkan selama 40 hari itu, begitu dengar adzan langsung saya cari masjid terdekat, ketika di angkot, langsung saya turun, ketika nyupir, langsung saya parkir. Subhanallah, 40 hari itu terasa sekeli pengalaman spiritual yang tinggi di mana saya merasakan saya hanya mengutamakan Allah selama 40 hari tersebut, dan itu membuat saya begitu ringan dan nikmat sekali.

Akibat dari baca buku ini, saya kemudian melahap buku-buku dan majalah-majalah yang ada di dalam perpusatakaan masjid sekolah. Bahkan majalah an-Nida pun cerpen-cerpen palestina saya baca, cerita-cerita menikah tanpa pacaran, sirah nabawiyah, dan banyak lagi.

Kemudian saya lanjutkan buku-buku di rumah ihya ulumuddin, duratunnasihin yang banyak hadist dhoif dan palsu pun saya baca semua. Setelah itu makin lama saya makin selektif membaca buku-buku, karena ternyata buku-buku tentang Islam itu banyak sekali. Tapi alhamdulillah ada keinginan untuk membaca buku-buku Islam tersebut. Semua itu membuat saya hijrah dari duluya suka baca komik-komik jepang, novel-novel atau cerita-cerita, menjadi membaca buku-buku Islami.

Dan kebiasaan tersebut terus sehingga membuat saya berubah seiring banyaknya buku yang saya baca, kegiatan-kegiatan Islami di Rohis, saudara-saudara seperjuangan di Rohis,  akhirnya memacu saya untuk menghafalkan Al Quran, dan bercita-cita menghafalkan Hadist, mengikuti kajian-kajian ta’lim keilmuan dari para ustadz-ustadz, dengan tetap mempertahankan presetasi di bidang Akademik.

Hal ini juga membuat saya yang tadinya suka musik Pop, Rock, berubah ke Nasyid, dan akhirnya saya hanya suka mendengar Al Quran.

Alhamdulillah nikmat sekali momentum Romadhon ini, bulan penuh keberkahan. Mari kita isi semaksimal mungkin.

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s