Kisah Antara Berkah Ramadhan dan Munakahat


Sore itu… di dalam masjid Al Wasi’i yang tenang, luas, dan nyaman, pada bulan Ramadhan…. istirahat dari muroja’ah hafalan Al Quran, saya sms salah satu shohib saya yang kenal sejak kelas 3 SMU dan kemudian kuliah bareng di ITB.  Ketika itu Ramadhan pada tahun 2005, saya mengirimkan pesan kepadanya, “Akhi bagaimana kuliah antum?”. Kira-kira begitulah pesan saya yang menanyakan kapan kiranya sahabatku tersebut lulus kuliah. Sedangkan saya yang mundur setahun dari kelulusan dengan memanfaatkan waktu 5 tahun untuk lulus kuliah dari ITB, lulus sekitar bulan Juli 2004, dan sudah merasakan kerja selama setahun kontrak di perusahaan multinasional vendor telekomunikasi.

Tak berapa lama saya dapatkan jawaban sms yang penuh optimis, “Insya Allah akhi, dengan berkah Ramadhan, lulus tahun ini segera..” kira-kira begitu juga jawabnnya, saya juga agak-agak lupa jawabannya.

Ketika membaca sms tersebut, saya agak tersentak dengan bahasa shobib saya ini yang nun jauh di seberang sedang berjuang di kota kembang, sedangkan saya di ujung selatan pulau Sumatera. Yang membuat saya kaget, tersentak, adalah kata-kata “berkah Ramadhan”. Kata-kata ini serta-merta menginspirasi saya… ya sangat menginspirasi saya…

Saya langsung berfikir, betul juga… ini bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Kalau saya mulai proses pernikahan saya pada bulan ini, insya Allah pernikahan saya juga mendapatkan berkah dari Allah.

Maka saya bergegas pulang, menuntaskan muroja’ah hafalan Al Quran saya. Saya menemui ibu saya dan menyampaikan aspirasi saya, fikiran saya di masjid tadi. Alhamdulillah ibu saya setuju saja. Begitu juga ayah saya menyerahkan kepada saya untuk masalah ini. Saya kemudian menghubungi murobbi saya yang masih di warung buncit waktu itu, karena saya pulang ke Lampung ini untuk sementara saja memaksimalkan bulan Ramadhan setelah saya menjadi pengangguran karena tidak melanjutkan kontrak kerja yang sudah habis masanya selama setahun pada akhir September 2005.

Alhamdulillah murobbi juga setuju, sehingga mulailah diproses calon istri yang sudah disediakan keluarga saya dan juga disetujui murobbi saya. Ini adalah proses saya yang kedua, setelah yang pertama gagal karena tidak sepakat masalah domisili. Saya pasrah saja kepada Allah jika emang ini jodoh maka akan Allah mudahkan, lancarkan dan cepat sekali.

Murobbi saya termasuk yang setuju dengan pilihan orang tua saya. Karena menurut dia, bagus kalau orang tua sudah mencarikan calon yang sholehah, karena murobbi saya punya pengalaman sampai 5 kali proses menikah baru  berhasil, dimana proses-proses sebelumnya gagal semua karena orang tuanya tidak setuju. Sedangkan orang tua saya dan adik-adik saya juga sudah mencarikan dan menseleksi calon untuk saya. Alhamdulillah.

Maka kemudian saya update lagi proposal Munakahat saya. Untuk pekerjaan saya ganti, karena saya masih pengangguran, saya tulis bahwa pekerjaan saya adalah “Insya Allah bekerja di Ericsson.” Ternyata nantinya status pekerjaan saya ini membuat heran ayah istri saya ketika itu ketika membaca proposal pernikahan saya yang tertulis pekerjaannya masih Insya Allah, dan ayah istri saya bertanya ke istri saya ini, “lho ini kok kerjaannya masih insya Allah dan bakal kerja di counter handphone…” Subhanallah, semua emang sudah diatur oleh Allah dalam kitab Lauh Mahfudz.

(Dah mau buka puasa euy… bersambung dulu detailnya)

Singkat cerita Setelah lebaran awal November 2005 saya ta’aruf dengan istri saya, Desember 2005 lamaran, dan 15 Januari 2006 Akad Nikah. Emang Bulan Ramadhan ini penuh berkah, menikah pun berkah, mendapatkan keluarga dan anak-anak yang penuh berkah dari Allah. Alhamdulillah mudah, lancar, dan cepat sekali. Terima kasih ya Allah.

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s