Sunat


Hari ini menghadiri syukuran sunatan anaknya teman, kemudian saya teringat teman-teman saya yang sunat kemudian juga ada acara syukuran. Kemudian saya teringat kisah sunatan saya sendiri sambil tersenyum-senyum karena peristiwanya aneh sekali.

Ketika itu sedang ada acara sunatan masal di Masjid Al Wasi’i. Tempat sunatan di ruang di bawah masjid tempat aktifitas para mahasiswa. Sebuah ruangan ada beberapa ranjang besi dan kasur.

Ketika itu ramai yang datang dan terdaftar sebagai peserta sunat massal. Seingat saya ada puluhan orang.

Saya datang ke acara tersebut ingin melihat-lihat orang-orang ynang di sunat. Tidak ada niat untuk ikutan sunat. Ingin melihat ramai-ramainya saja.

Saya dan teman keliling-keliling di keramaian. Saya yang sering ke Masjid mengenal kakak-kakak mahasiswa yang menjadi panitia sunatan masal tersebut. Karena saya belajar mengaji dan beberapa pelajaran sekolah SD dengan kakak-kakak masjid tersebut.

Ketika itu saya masih SD. Ketika lagi asik-asik melihat-lihat keramaian di acara tersebut, yang mana udah banyak yang di sunat, mungkin sudah setengah peserta di sunat. Tiba-tiba ada kakak masjid yang nanya ke saya, mau di sunat apa gak. Saya dan teman bingung, kami seperti iya atau tidak. Eh ternyata kakak masjid ini menuliskan nama saya dan teman di 2 nama daftar peserta sunat terakhir.

Wah saya kaget, dan merasa tidak bisa mundur. Akhirnya saya sampaikan ke ortu kalau saya bakalan di sunat, karena sudah didaftarkan.

Akhirnya giliran saya dipanggil. Saya sudah siap memakai sarung dari rumah. Saya naik ke atas dipan dan berbaring. Petugas sunat dengan gaya bercanda dan humoris berusaha menghibur saya yang tegang, Saya tidak bisa melihat karena terhalang pandangan saya oleh sarung. Ramai yang mengerubungi saya ketika itu sebagai salah satu peserta terakhir. Saya melihat sudah banyak ujung kulit yang terpotong dari peserta sebelumnya dalam sebuah botol kaca/pelastik. Serem juga hehe.

Kemudian saya diberitahu sunat akan dimulai, ketika itu bius nya adalah bius suntik ke daerah sekitar yang disunat. Seingat saya 3 kali suntikan. Suntikan pertama lumayan terasa dan bikin kaget sekali. Suntikan kedua dan ketiga sudah tak begitu kerasa. Kemudian sudah pada bilang ya helm nya sudah kelihatan, dan tak lama kemudian ternyata sunat sudah selesai.

Alhamdulillah pulang dengan diperban dan dapat hadian peci dan sarung baru dari panitia. Pak Cik saya yang melihat saya disunat langsung ngasih uang 5ribu rupiah yang terasa besar sekali nilainya bagi anak kecil hehe…

Sunat saya ketika itu dipotong dan dijahit. Beda dengan cerita teman saya yang sunatnya pake bius semprot dan tanpa dijahit.

Malam harinya ketika bius habis, saya buang air kecil dan ketika itu terkena air dan bius sudah habis sakit sekali rasanya dan terekam kuat di memori.

Ya begitulah kisah sunat massal di Masjid. Walaupun tanpa acara syukuran, saya tetap bahagia karena saya punya kisah sunat di Masjid. Dan saya sangat mencintai Masjid dan Sholat berjama’ah di Masjid🙂

Masjid Al Wasi’i. Sumber foto: http://a.yfrog.com/img814/8373/dkteh.jpg

Pos ini dipublikasikan di Tidak terkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s