Menuju Berat Badan Normal dari Obesitas


Bandar Lampung, Kamis, 30 Agustus 2018

Berat badan di atas 100 kg dengan tinggi 1,73 m sangatlah tidak menyenangkan. Liver tertimbun lemak yang begitu parah. Bahkan pankreas pun tertimbun lemak. Keadaan liver yang demikian parah akibat peradangan akibat terlalu kelelahan sehingga diserang makhluk super kecil ber-DNA dan diperparah dengan fatty liver. Membuat para dokter mewajibkan saya untuk diet ketat.

Sebenarnya dulu berat badan saya selalu normal sebanyak apapun saya makan. Itu karena saya begitu aktif dan banyak bergerak. Suka permainan olah raga seperti main bola, basket, voli, badminton, kejar-kejaran, gobak, benteng, kasti, perang-perangan, sepedaan, dan banyak lagi.

Beladiri juga ganti-ganti dari Karate ketika SD, Judo di SMP, Taekwondo di SMA, kembali ke Judo lagi di tingkat 1 ITB, dan akhirnya ke Kungfu Tifan Po Khan di Salman ITB. Saat awal kuliah berat badan saya konsisten di 64 kg.

Penggemukan mulai terjadi ketika saya sakit begitu keras di tingkat 3 kuliah. Ketika itu saya komplikasi radang lambung karena magh kronis, radang usus karena tipus, dan radang saluran kemih karena jarang minum, serta ada dokter bilang merembet ke liver. Sekitar 2 bulan terbaring dan makan kembali ke bubur bayi. Setelah itu saya gampang drop, kecapekan, dan sering bedrest. Sudah tidak bisa lagi aktivitas fisik berat dan olah raga berat. Akibatnya berat badan berangsur naik.

Berbagai cara untuk diet pun dilakukan. Karena jika makan normal maka dipastikan berat badan naik karena jarang olah raga berat. Usaha pertama sukses menurunkan berat badan dari 80an kg menjadi 77 kg ketika akan menikah di awal tahun 2006. Saat itu saya memakai pola sarapan dengan gado-gado atau tanpa nasi, makan siang normal nasi dan lauk pauk, makan malam jus saja atau lauk tanpa nasi.

Kemudian makan normal kembali dan berat badan naik kembali menjadi di atas 90 – 100 kg. Usaha diet tahun 2010 dengan cara mengganti makanan dengan sayuran bubuk serat pengembang Melilea. Sukses turun sampe 84 kg. Kemudian karena saya resign dari pekerjaan dan melanjutkan S2 di ITB dengan biaya sendiri tanpa bekerja, sehingga menguras tabungan. Maka Melilea tidak sanggup dibeli. Akhirnya berat badan naik lagi menjadi 90 – 100 kg.

Lulus S2 saya berangkat ke Jepang dan selama 5 bulan masih sendiri dari Oktober 2012 hingga Februari 2012. Karena jarang masak, kadang masak untuk sekalian dua atau tiga hari, atau ceplok telor. Juga masih belajar beli makanan halal yang mana saja. Akhirnya berat badan turun hingga 87 kg. Kemudian ketika keluarga datang, makan mulai normal, tapi dikurangi, berat badan sekitar 90 kg.

Lulus PhD dari Jepang, pulang ke Indonesia, makanan halal ada banyak, makan normal, akhirnya berat badan sedikit naik. Kemudian karena kelelahan bekerja selama setengah tahun di Indonesia, badan langsung drop. Rupanya liver saya peradangan. Akhirnya saya banyak bed rest. Karena kurang olahraga ringan sehingga berat badan naik tembus di atas 100 kg. Ternyata lemak liver membantu perparah peradangan liver dari April 2017 hingga puncaknya Mei 2018, peradangan makin parah.

Kemudian strategi dirubah, dengan masukan dari dokter-dokter di Lampung dan RSCM melakukan tiga hal, diet ketat, olah raga ringan, dan istirahat yang cukup tidak boleh kelelahan, dan terus minum anti virus, dengan niat agar sehat, sehingga bisa beribadah, sholat, tahfizh, sehingga mendapatkan Ridha dan Rahmat Allah. Maka saya bertekad dengan momentum Ramadan, untuk melakukan puasa Daud.

Logic Puasa untuk bakar lemak ini saya dapatkan dari seniro setahun di atas saya di Elektro ITB yang ketika kami masih sama-sama di Ericsson kami berdua gemuk. Ketika dirinya di USA, berhasil turun berat badan drastis. Teorinya adalah jika makan karbo atau gula maka tubuh prioritas membakar gula tersebut kira-kira sampe 8 jam, baru switch bakar lemak. Ketika sudah switch bakar lemak, olah raga ringan atau berat untuk mempercepat bakar lemak. Sebagai contoh ketika menjelang buka puasa, tubuh sedang bakar lemak, sehingga olahraga ringan apalagi berat menjelang buka puasa mempercepat pembakaran lemak untuk penurunan berat badan.

Dimulai dari puasa Ramadan, Syawal, Daud, Dzulhijjah, Daud kembali hingga sekarang akhir Agustus 2018. Salah satu hikmahnya adalah Allah menjadikan saya berpuasa Daud kembali. Saya tahun 1999 – 2000 adalah praktisi puasa Daud, hingga akhirnya ketika puasa Daud, pas dengan tanding mata kuliah Olahraga Judo di Semester 2 ITB. Siapa juara 1 – 3 dapat nilai A otomatis. Saya merasa sayang untuk membatalkan puasa Daud, ketika semifinal, saya kalah dan mau pingsan. Akhirnya buka puasa… Sehingga ketika perebutan juara ketiga saya memang dengan mudah. Setelah itu berhenti puasa Daud.

Awal-awal turun berat badan agak lambat karena sahur dan buka puasa lumayan banyak di Ramadan dan Syawal. Kemudian dengan strategi sahur dengan air putih dan buka puasa seadanya ketika puasa Daud, penurunan berat badan lumayan signifikan. Serta olah raga ringan dengan jalan pagi sore dan sit up, kemudian bed rest atau tidur sekitar 2 jam setelah olah raga ringan, sehingga terjadi pembakaran lemak dan tubuh tidak terlalu kelelahan.

Setelah itu ada teman praktisi keto fastotis, dan sepupu yang mahasiswa subspesialist tulang belakang menganjurkan keto. Saya coba dengan bimbingan teman praktisi keto sebagai mentor, kombinasi dengan puasa Daud, penurunan lebih cepat lagi.

Akhirnya dari pertengahan Juni 2018 berat badan saya 102-103 kg turun di akhir Agustus menjadi 84 kg. Dan terus dilanjutkan dengan target 62-65 kg Insya Allah untuk berat badan Normal tinggi 1,73 m. Hasil lainnya adalah Alhamdulillah peradangan liver SGOT kembali normal, dan SGPT penurunan 34 poin, tapi masih lebih besar dari batas atas normal sekitar 17 poin. Serta Hadi fibroscan terjadi penurunan kekerasan liver dari 16an kilo Pascal di Januari 2018 menjadi 13an kilo Pascal di Juli 2018, dan masih tetap di F3-F4.

Bismillah… Semoga SGPT segera normal dan liver kembali ke F0 segera dengan ikhtiar minum anti virus, olah raga ringan, istirahat atau bedrest yang cukup agar tidak kelelahan, dan berat badan normal, puasa Daud, serta doa dan tawakal kepada Allah… Aamiin

Bandar Lampung, 23 September 2018

Update penurunan berat badan terakhir di level 81,4 kg. Sudah mulai tidak tajam lagi kurva penurunan berat badan, karena makanan dan olah raga tidak seketat sebelumnya