Pengalaman Buat Pasport Bersama Keluarga


Tulisan istri saya, Eva Jumiyanti:

Pertama kali diajak ke kantor imigrasi bandung, yang ada dibayangan, bakal jauh ga ya.. Akhirnya nanya juga pas di jalan, “emang kanimnya dimana bang?” dijawab, “sebenernya bisa lewat sukaluyu, tapi lewat sini aja (jl.gagak), khawatir ga boleh muter balik kalau lewat sukaluyu”. Oooo.. cuma itu ekspresi, tp ga kebayang dimana. Bakal jauh nih agaknya. Begitu sampe, haaah, disini too.. langsung, pikiran jadi fresh lagi. Rencana berangkat jam 7, jadi jam setengah delapan, hehe karena bawa prajurit-prajurit kecil.

Saat itu, beli map kuning hargany Rp 10.000/map, materai Rp 7.000/materainya, fotocopy ktp, kartu keluarga, akte kelahiran, surat nikah kalau mau buat paspor baru. tapi kalau yang sudah pernah buat paspor dan minta dibuatkan yang baru, ada tambahan fotocopy surat resign dr kantor (karena di ktp suami status pekerjaannya karyawan swasta dan karena dah resign diminta bukti surat resignnya). Untuk anak-anak, butuh dua materai, satu untuk surat pernyataan pribadi dan satu lagi surat pernyataan orang tua dgn tanda tangan suami istri. Terus minta formulir dibagian pengambilan formulir, gratis dan bisa minta lagi kalau salah isi, karena pas pengisian formulir ga boleh di tip-x, ga boleh lecek, dan harus tinta hitam, sambil ambil nomor antrian.

Hari pertama terlewatkan dengan baik, walaupun harus bolak balik ke tempat fotokopian 3 kali, pertama beli pulpen warna biru, balik lagi tuker warna hitam n jadinya beli 2, akhirnya yg ketiga balik lagi karena satu pennya ga jelas hasil tulisnya. Lumayan lah, itung-itung bumil berolahraga.

Setelah 3 hari dari pengajuan berkas, balik lagi ke kanim untuk pembayaran sebesar @ Rp 255.000, foto, sidik jari dan wawancara. Untuk kesemuanya ini ambil lagi nomor antrian. Hal yang paling ga bisa nahan tertawa, ketika anak2 khususnya fatih berfoto. Kalau farras, udah ngerti dengan melihat contoh dan penjelasan dari kami. Tapi pas fatih, asli… petugas fotonya aja 2orang sampe ketawa2. Gayanya itu, ga nahan.. ketika diminta untuk berdiri, berdiri tapi jari telunjuk kanan kirinya pegang pipinya dan tersenyum. pas diminta lihat ke kamera sama petugas yang bantuin mengarahkan fatih, pas diambil gambarnya, mata fatih ke atas, karena liat omnya. Akhirnya, fatih miringin badannya ke kanan, ke kiri, wajahnya miring kanan, miring kiri, bibir dimajuin, mata disipitin, kadang bibirnya tersenyum lebar, tiba2 diam, uminya dah ga sanggup. gantian abinya yang handle, alhasil, dipakein kursi, lumayan lebih tenang karena ga gerak2, tp tetap wajahnya selalu berekspresi. Haha… ga tahan… sampe petugas imigrasinya tertawa n bilang, wah jadi artis aja nih bu.. (wah artis, artis tahfidz quran ada ga ya?)

Senangnya lagi, karena ada taman kolam ikan di samping depan kanim, anak2 jadi bermain ga kemana-mana, sibuk bolak balik liat ikan aja. Alhamdulillah.. mengurangi rasa khawatir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s